Kamu Homesick? Ini Solusinya

Belajar di luar negeri merupakan sebuah pencitraan untuk kamu khususnya para scholarship hunter, yang mana kamu ingin menguji jiwa petualang dengan merantau ke negeri orang. Belajar dan tinggal di luar negeri lebih mempermudah kamu untuk mendalami sekaligus menerapkan budaya dari suatu negara secara langsung, budaya yang kamu dapat bisa dari sekolah dan kehidupan orang-orang sekitar, namun fakta membuktikan bahwa belajar secara praktek akan lebih menarik dibanding secara teoritis, tapi karena kamu hidup seorang diri tanpa satu pun keluarga yang menemani pastinya membuatmu homesick berhari-hari bahkan berminggu-minggu sehingga kamu jadi tidak betah tinggal di negeri orang yang justru merupakan pilihanmu.

Lalu apa solusinya?

Kita kembali lagi ke negeri sakura, kalau kamu merupakan pelajar asing yang sekolah di Jepang kamu tidak perlu khawatir tidak akan memiliki teman karena kamu merupakan seorang imigran, oleh karena Jepang merupakan negara yang kaya akan tradisi dan budaya, dimana hampir setiap musim tiba selalu mengadakan festival dan event yang berbau budaya. Nah, salah satu festival yang menjadi event favorit para wisatawan asing sekaligus rekomendasi penduduk Jepang adalah festival musim panas atau yang biasa disebut Festival Hanabi dan masih banyak istilah-istilah lainnya tergantung kota yang menyelenggarakannya.

Hanabi sendiri memiliki arti kembang api, setiap musim semi atau panas tiba, seluruh warga Jepang akan mengadakan pesta kembang api yang bahkan dipadu padankan dengan acara Haru Matsuri atau festival musim semi, jika kamu mendengar kata-kata seperti bunkasai atau matsuri pasti event tersebut berkaitan dengan festival budaya dan kembang api.

Hampir seluruh pengunjung mengenakan yukata (baju adat Jepang untuk pemuda/i yang belum menikah), dalam acara ini kamu yang sedang melakukan study tour di Jepang bisa menyempatkan waktu untuk berkunjung ke acara ini untuk merasakan sensasi budaya serta menyaksikan keindahan pernak pernik kembang api pada malam hari. Akan ada banyak variasi kembang api yang disuguhkan yang akan menghiasi langit Jepang dimusim semi atau musim panas.

Belajar di negeri orang sekaligus menikmati event maupun festival tahunan justru akan lebih mengikatkan diri kamu dengan budaya dan tradisi yang mungkin belum kamu ketahui dan juga menghilangkan penat dan tekanan yang sedang melanda diri kamu yang membuatmu menjadi homesick karena jauh dari keluarga.

Maka, cobalah untuk datang berkunjung ke acara-acara yang menurut kamu cocok untuk menghibur dan mendapat banyak teman sekaligus relasi agar hari-harimu tetap menyenangkan… Ganbarou!!!

 

Author: Tita Sr.

Jangan Sampai Seperti Ini. Berkaca dari Shinta, Mahasiswa Indonesia yang Menjemput Ajal di Danau Jerman

Belum lama kita dengar kejadian buruk yang menimpa anak-anak Indonesia di luar negeri. Tentu masih terbayang dalam ingatan mahasiswi Indonesia yang mendapatkan perlakuan keji orang yang tidak bertangung jawab. Ia di serang setelah sesampainya dikediamannya di Belanda, setelah itu diperkosa.

Terulang dan terulang lagi. Kabar duka kali ini datang dari salah satu mahasiswa Indonesia di Jerman. Shinta Putri Diana, mahasiswi semester akhir Universitas Bayruth, Jerman ini ditemukan tak bernyawa lagi. Mahasiswi pascasarjana konsentrasi kedokteran forensik ini meregang nyawa usai berenang di danau Trebgaster, danau yang berada di sekitar komplek kampus.

kronologi saat itu begini. Pada Rabu (9/8/2018) Shinta bersama seorang temannya diketahui sedang berada di danau dekat kampusnya. Rupanya Ia dan temannya itu sedang berenang. Sampai pad sore hari, Shinta tidak diketahui keberadaannya lagi. Sontak teman-teman yang sembari diliputi kepanikan itu mencari shinta, sampai-sampai menggunakan pengeras suara, alhasil nihil. Hingga pada akhirnya teman-temannya itu melapor ke pengawas danau untuk dibantu mencari. Hingga tengah malam pencarian terus dilakukan. Sebanyak 100 personel rescue dikerahkan berserta alat-alat canggihnya, tetap saja tidak membuahkan hasil dan pencarian dihentikan sementara.

Dilanjutkan pada pagi harinya, tim kembali menyisir seluruh area danau yang mempunyai ukuran panjang 680 meter dan lebar 220 meter serta kedalaman 4 meter ini. Setelah lama mencari, kerja keras tim membuahkan hasil, Shinta ditemukan sudah tak bernyawa berjarak 30 meter dari pinggir danau. Jasad itu dipastikan Shinta dibuktikan oleh tutur temannya sesama  mahasiswa yang melihat bahwa itu benar shinta. Dari hasil penelitian lebih lanjut, Shinta dipastikan tewas dengan murni kecelakaan,

Berita ini bak petir di siang bolong, terkhusus untuk orang tua Shinta. Umi Salamah, Ibunda Shinta bercerita sepenggal kenangan mengenai anaknya itu. “Ia akan wisuda pada desember nanti, dan setelah itu pulang untuk melangsungkan pernikahan, sehabis itu kembali lagi ke Jerman untuk meneruskan S-3 nya”.

Gadis kelahiran 1993 itu menekuni bidang kedokteran khususnya forensik karena dilandasi satu hal. Ia ingin mengembangkan ilmu forensik di Indonesia. Wanita yang pernah mengenyam pendidikan sarjana di Leipzig ini dikenal aktif berhimpun dengan organisasi PPI di sana. Sampai-sampai ia menjadi guide orang Indonesia yang berkunjung ke sana.

Sesuai ketentuan di sana, seorang yang meninggal selain di rumah sakit dan dirumah harus otopsi terlebih dahulu sebelum dikuburkan. Oleh karena itu, menurut rencana Jasad Shinta baru bisa diterbangkan setelah otopsi dan akan dimakamkan di tanah air.

Masalah lain timbul, hal ini terait biaya pemulangan jenasah. Setelah pada sebelumnya diketahui pemerintah yang akan bertanggungjawab perihal pengurusan dokumen termasuk biaya pemulangan, nyatanya tak sesuai. Diketahui belakangan, biaya pemulangan jenasah Shinta tidak ditanggung dan dibebankan kepada keluarga.

Sontak pihak keluarga kaget. Ibunda Shinta mengira kalau biaya akan ditanggung negara karena sudah ada obrolan sebelumnya. Adapun biaya bisa ditanggung negara jika pihak keluarga melampirkan surat keterangan tidak mampu. Hal itu langsung ditolak oleh Umi salamah, ia berujar bahwa ia mampu. Ia tidak ingin “menipu” negara dengan alasan tidak mampu. “Saya sebetulnya bisa, hanya saja kabar ini mendadak, padahal sebelumnya saya baru saja kirim uang ke Shinta senilai 8 ribu Euro. Itu sekitar Rp 150 juta,” ungkapnya.

Secara inisiatif akhirnya Helmy, kerabat Shinta membuka donasi online di salah satu website. Ia menargetkan angka di Rp 60 juta dan dalam beberapa jam donasi tersebut sudah terpenuhi. Hingga dana terkumpul, belum ada informasi pemerintah lebih lanjut terkait biaya yang dibutuhkan untuk membawa jasad Shinta pulang ke Indonesia.

***

Dari sini bisa diambil pelajaran. Bagaimana hidup sendiri di luar negeri bukan perkara mudah. Mungkin enak, bisa bebas tidak ada yang melarang dan mengawasi. Hidup di luar negeri apalagi yang tujuan utamanya adalah menuntut ilmu harus lebih berhati-hati. Tanamkan dalam diri meskipun dirasa bisa menjaga diri ada baiknya tidak perlu melakukan sesuatu hal yang macam-macam, apalagi sampai di luar batas wajar. Tujuan ke sana untuk menuntut ilmu ya harus benar-benar tuntutlah ilmunya. Dengan perilaku hidup baik dan bijak bisa sedikit menghidarkan dari hal-hal buruk. Ingat baik-baik, ada yang lebih penting daripada melakukan hal-hal kurang bermanfaat. Ada orang tua, keluarga, kerabat, teman yang setiap hari cemas memikirkan kalian di luar sana sembari memanjatkan doa.

 

Penulis: Andro Satrio SG

Lulus SMA Mau Lanjut Kuliah? Sudah Paham Jenis-Jenis Perguruan Tinggi? Kenali dan Ketahui Jenis Perguruan Tinggi di Indonesia

Kata orang masa SMA adalah masa yang paling mengesankan. Sudah remaja, mulai bisa berpikir dewasa, pergaulan makin banyak, mulai berani pacaran hehe, dan masih banyak lagi. Terlebih dari itu, kenangan indah yang bisa terngiang-ngiang dalam ingatan adalah ketika kelas 3. Sudah semakin akrab, banyak hal yang sudah dilalui bersama teman, rasanya susah untuk terulang lagi. Sampai pada momok besar UN dan lulus, menjadi pemisah 3 tahun lamanya menjalani keseharian bersama. Setelah lulus inilah, mulai disibukkan dengan urusan pribadi, entah melamar kerja atau mencari-cari tempat kuliah. Intensitas keakraban yang tadinya hampir setiap hari mulai berkurang, bahkan tidak ada lagi.

Apa mau dikata, hidup harus terus berlanjut. Pilihannya 2, kerja atau lanjut studi. Khusunya yang berniat melanjutkan studi ke jenjang perkuliahan, sudah tentu harus mencari tahu bagaimana dan seperti apa kuliah itu. Tentunya semua harus kembali lagi ke minat dan bakat masing-masing supaya tidak ada penyesalan nantinya.

Sangat penting untuk diketahui, memilih tempat kuliah itu tidaklah sembarangan. Jangan cuma kepingin kuliah di Universitas tebaik di Indonesia saja, minat dan bakat dalam diri jadi diabaikan. ‘Asal keterima’ saja, yang penting kuliah. Minat dan bakat sangat mempunyai peranan penting untuk memutuskan lanjut kuliah. Jangan sampai ditengah jalan merasa salah jurusan, jadinya setengah-setengah sehingga lulus pun lama. Lebih buruknya lagi, memutuskan untuk berhenti dengan semua pengorbanan yang sudah dilakukan, hanya jadi sia-sia saja.

Persiapan kuliah yang mula-mula adalah tahu jenis-jenis perguruan tinggi. Mari kenali dan ketahui jenis-jenis perguruan tinggi di Indonesia. Simak penjelasan lebih lanjut di bawah ini:

 

  1. Perguruan Tinggi Berdasarkan Penyelenggsara

 

  • Perguruan Tinggi Negeri

 

Perguruan tinggi negeri merupakan perguruan tinggi yang dipunyai pemerintah. Kalian pasti sudah kenal dengan UI, IPB, ITB, UGM, UNY, dan lain-lain.

 

  • Perguruan Tinggi Swasta

 

Perguruan tinggi swasta merupakan lembaga pendidikan tinggi yang dimiliki pihak swasta/lembaga/yayasan. Contoh: Universitas Pancasila, Binus, UPH, Trisakti, dan lain-lain.

 

  • Perguruan Tinggi Kedinasan

 

Perguruan tinggi kedinasan –disingkat PTK- merupakan jenis perguruan tinggi yang dimiliki lembaga pemerintah ataupun swasta. Di PTK ini mahasiswa setelah lulus diwajibkan bekerja di lembaga tersebut sebagai bentuk pengabdiannya. PTK di Indonesia antara lain, STAN, AKMIL, Politeknik Gajah Tuggal, dan lain-lain.

 

  1. Perguruan Tinggi Berdasarkan Bentuk

 

  • Universitas

 

Universitas merupakan bentuk perguruan tinggi yang memiliki banyak program studi dan pada umumnya lengkap. Program studi dari rumpun ilmu sosial, sains dan teknologi, hingga kesenian.

Adapun jenjang di universitas beragam, mulai dari D3, S1, S2, sampai dengan S3. Universitas lebih mendidik mahasiswanya menjadi seorang akademisi atau ahli.

 

  • Institut

 

Institut merupakan bentuk perguruan tinggi yang memfokuskan diri kepada satu program yang sejenis. Contohnya adalah ITB, di ITB yang ada hanya program studi kategori sains dan teknologi. Di sana tidak ada program studi ilmu sosial apalagi kesenian.

 

  • Sekolah Tinggi

 

Sekolah tinggi lebih mengerucutkan diri menjadi lembaga pendidikan tinggi yang hanya memiliki 1 bentuk program studi. Contoh: Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen, Sekolah Tinggi Ilmu ekonomi, Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata, dan lain-lain.

 

  • Akademi

 

Sedikit berbeda dari 3 yang sudah disebutkan. Akademi lebih mengedepankan keterampilan dari pada teori. Pembagiannya 30% praktik dan 70% teori. Ini sama halnya  seperti SMK di pendidikan tinggi. Lulusan ini memang dipersiapkan untuk bisa langsung terjun ke dunia pekerjaan. Contoh akademi antara lain, Akademi Pimpinan Perusahaan, Akademi Televisi Indonesia, Akademi Sekretari, dan lain-lain.

 

  • Politeknik

 

Sama halnya seperti akademi, politeknik lebih menekankan juga pada pratik ketimbang teori. Bedanya, politeknik menyasar bidang-bidang studi teknis. Sasaran utama politeknik yaitu menyiapkan mahasiswanya terampil dan cepat beradaptasi dengan dunia industri. Jenjang politeknik di mulai dari D3, D4, SP-1, dan SP-2. Politeknik yang ada di Indonesia antara lain, Politeknik Negeri Media Kreatif, Politeknik Negeri Jakarta, Politeknik Pos, dan masih banyak lagi.

Bagaimana, sudah lebih paham belum? Jangan sampai salah lagi ya. Mari gapai cita-cita dengan pendidikan yang setinggi-tingginya. Tetap semangat.

 

Penulis: Andro Satrio SG

Banyak Orang Indonesia Dikuliahkan ke Luar Negeri. Ada yang Salah di Kampus Negeri Sendiri?

Gencarnya program belajar ke jenjang tinggi yang dicanangkan pemerintah riuh rendah sekali beberapa tahun belakangan ini. Terlebih program pemerintah ini ditujukan untuk orang Indonesia supaya bisa mengembangkan diri dengan kuliah ke luar negeri dan difasilitasi. Ya difasilitasi, artinya diberikan beasiswa. Beasiswanya pun beragam, kalian bisa carilah sendiri. Mulai dari yang full beasiswa langsung dari pemerintah hingga kerjasama antara negara-negara sana dengan Indonesia sendiri.

Dilihat secara luas hal yang demikian bagus adanya. Dengan kata lain pemerintah secara terang-terangan menunjukkan keseriusannya dalam hal mencerdaskan bangsa. Hal tersebut berdampak kepada anak-anak Indonesia, program ini seakan membakar semangat mereka untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik yang bisa menimba ilmu sebanyak-banyaknya di kampus-kampus nomor wahid di dunia.

Pendanaan luar biasa banyaknya yang digelontorkan pemerintah membuka peluang secara besar-besaran bagi generasi muda. Beasiswa ini seakan menjadi ajang kompetisi bak calon-calon bintang yang siap tenar dari pencarian bakat di televisi. Hal tersebut positif karena menjaring bakat-bakat yang memang layak dan setelah kembalinya dapat berkontribusi nyata bagi negeri. Anggap saja negara sedang berinvestasi.

Nyatanya, apakah efektifkah program ini sendiri bagi negeri, mari kita lihat dari sudut pandang lain. Dengan adanya beasiswa ke luar negeri sebenarnya memberikan kepada negara lain waktu dan tenaga dalam hal kemajuan pengetahuan dan penelitian mereka menggunakan uang kita sendiri. Jadi, bukan hanya SDMnya saja yang kita berikan kepada mereka tapi beserta dana pengembangannya yang cukup besar juga. Apalagi di beberapa negara ada yang mewajibkan pembayaran semacam uang SPP, itu harus ditanggung oleh negara juga. Selain itu, dengan adanya mahasiswa Indonesia di sana sedikit banyaknya membantu mereka dalam hal penelitian melalui karyasiswa mahasiswa Indonesia. Di lain hal, negara kita memberi devisa yang cukup lumayan bagi mereka.

Contohnya, lihat saja Beasiswa LPDP yang digelontorkan Kemenkeu. Beasiswa LPDP siap mengeluarkan dana sebanyak ± 3 Milyiar dalam bentuk SPP di muka bagi karyasiswa doktoral di Naval Academy AS. Belum lagi di negara-negara yang mewajibkan SPP bagi setiap mahasiswanya, akan ada dana lebih yang di keluarkan negara.

Nyatanya hal yang demikian tidak sejalan di kampus negeri sendiri. Modal penelitian bagi mahasiswa S3 hanya berkisar pada ratusan juta saja.  Bandingkan, untuk mencetak satu doktor di luar negeri sebanding dengan mencetak puluhan doktor di dalam negeri sendiri. Adakah yang salah di kampus sendiri?

Hal ini seakan menjadi pukulan bagi kampus-kampus dalam negeri. Sudah ditinggal orang-orang bertalenta ke luar negeri, dalam hal pendanaan pun kampus dalam negeri seperti dianaktirikan. Padahal itu untuk memajukan negeri melalui penelitian di negeri sendiri. Lantas, Tepatkah pemerintah menghimpun anak-anak bangsa untuk berguru jauh ke luar negeri? Jika menilik lebih dalam, harusnya kebijakan ini perlu direvisi.

Coba sama-sama cermati, jika generasi muda banyak yang dikirm ke luar negeri, lalu siapa yang mengembangkan ilmu pengetahuan di kandang sendiri? Harusnya pemerintah benar-benar peduli mengenai hal ini. Harusnya pemerintah lebih fokus ke dalam negeri ketimbang menghabiskan uang dengan cara begini.

Menurut fakta, pendidikan doktoral itu dibarengi dengan penelitian. Mereka yang mengejar gelar doktor akan sia-sia jika tidak melakukan penelitian, begitu juga sebaliknya. Penelitian itu bukan dilakukan oleh dosen sebuah universitas, dalam artian bukan merekalah yang melakukan penelitian secara teknis. Mahasiswa doktoral yang harus melakukan penelitian teknis di lapangan ataupun di laboratorium. Dosen hanya berperan sebagai tim penyusun konsep proposal penelitian, metode yang harus dilakukan, dan memonitor progres penelitian karena pada dasarnya dosen lebih mengarah kepada pengajaran.

Dalam penelitian biasanya para mahasiswa dimasukkan ke dalam proposal penelitian  sebagai elemen yang mendapatkan biaya untuk peneliti. Biaya tersebut digunakan antara lain untuk keperluan biaya SPP dan gaji bulanan (itulah yang disebut beasiswa). Dana SPP dianggarkan sebagai keperluan administratif mahasiswa di universitas untuk mendapatkan gelar akadamik dari universitas tersebut. Sedangkan gaji dianggarkan sebagai bahan pengganti waktu, tenaga, dan pikiran yang selama ini diberikan peneliti dalam menjalankan penelitiannya.

Situasi yang sedikit berbeda kita alami di negeri sendiri, macam penelitian seperti ini bisa dikatakan tidak berjalan dengan baik. Minimnya pendanaan bagi penelitan berdampak nyata.  Sedikit sekali proposal penelitian yang mendapatkan anggaran untuk melaksanankan penelitiannya. Sedikitnya kucuran dana tersebut berimbas kepada kurang produktifnya akademisi untuk berkarya. Sampai-sampai penelitian dalam negeri menjadi macet dan menjadikan kurang adanya sumbangsih nyata para cendekiawan bangsa dalam memajukan ilmu pengetahuan. Meskipun tiap-tiap universitas di dalam negeri mempunyai anggaran untuk melakukan penelitian sendiri itupun sangat terbatas, tidak sebanding. Kalau dibiarkan terus-menerus negara kita bisa benar-benar tertinggal dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan.

Selanjutnya, apakah pemerintah bisa menjamin setelah kembalinya anak-anak Indonesia dari luar negeri bisa benar benar berkontribusi? Dana yang sudah diberkan jorjoran itu bisa menghasilkan dampak yang nyata tidak? Belum tentu juga doktor-doktor lulusan dalam negeri kalah bersaing dengan hasil didikan luar negeri. Semua kembali kepada keoriginalitasan karya yang dibuat.

Pemerintah harusnya lebih mengokohkan pendidikan dalam negeri lebih dahulu alih-alih memberangkatkan anak-anak terbaik negeri mengembara jauh ke luar sana. Sangat disayangkan sekali 3 Milyar habis cuma menghasilkan 1 doktor saja. Fokuskan lebih besar dana dengan memberikan beasiswa kepada anak-anak bangsa untuk belajar di dalam negeri. Hal itu juga memberikan kesempatan bagi universitas dan civitas di dalamnya menggaet mahasiswa berprestasi untuk menghasilkan karya nyata yang berdaya guna bagi negeri dan dengan bangganya dihasilkan negara sendiri. Berimbas juga terhadap peran dosen, pekerjaan dosen akan beragam, bukan hanya mengurusi jenjang-jenjang yang di bawahnya saja. Niscaya, dari itu siklus dan kultur pendidikan di Indonesia akan mulai merekah. Bahkan bukan tidak mungkin suatu saat nanti jika iklim pendidikan kita sudah maju dengan pesat malah bisa membuat mereka-mereka itu yang berguru pada kita.

 

Penulis: Andro Satrio SG

Jangan Kuliah di Luar Negeri! Itu Sulit. Ini 5 Hal Terburuk Kalau Kalian Kuliah di Luar Negeri

Melanjutkan pendidikan tinggi merupakan idaman semua orang. Terlebih, melanjutkannya tidak di negera sendiri melainkan di negara orang. Sepertinya seru gitu dalam bayangan. Bisa belajar dengan orang-orang baru dengan bahasa baru, setelah lulus nanti gelarnya lain, beda sama orang-orang yang kuliah di Indonesia, merasa lebih spesial dibanding yang lainya. Tapi tahukah kalian pada kenyataannya kuliah di luar negeri itu jauh dari kata enak? Tidak Percaya?

Nih 5 hal yang bakal bikin kalian mikir ulang mau kuliah di luar negeri, simak baik-baik ya.

 

1. Bisa stress karena belajar adalah makanan sehari-hari

Ya, tujuan kalian ke sana memang untuk belajar. Tapi apakah melulu belajar setiap harinya hingga hilang waktu untuk mengerjakan hal lain? Banyak orang yang bilang kalau “Kuliah di luar negeri itu adalah ketika mengeluh aja ga ada waktu” Pernyataan itu memang benar adanya. Kalian benar-benar akan disibukkan dengan padatnya jadwal pelajaran, bahkan di hari-hari libur pun. Mau nangis kayak gimana juga tidak akan berguna. Kalian akan disibukkan dengan weekly assigment baik individu maupun kelompok yang sangat banyak. Tidak ada bedanya antara minggu biasa dengan minggu ujian. Walaupun misalnya ada minggu tenang, percaya deh tidak bakal ada tenang-tenangnya, beda kaya di sini.

 

2. Depresi bahkan banyak yang berniat bunuh diri

Setiap tahunnya kasus depresi bahkan yang berujung bunuh diri terus terjadi. Sudah bukan hal aneh lagi, terutama bagi para mahasiswa internasional. Banyak faktor yang mendasari mereka menyudahi hidupnya begitu saja. Hal seperti ini biasanya terjadi saat masuk ke masa kuliah yang ’berat’ dan para mahasiswa tidak paham bagaimana cara untuk menyesuaikan ritme kuliah yang begitu dinamis. Selain itu hal yang sangat berperan mempengaruhi antara lain homesickness, bahasa, dan merasa kesepian.

Menurut salah satu penelitian majalah kampus di luar sana menyebutkan bahwa kebanyakan mahasiswa khususnya mahasiswa internasional depersi karena pelajaran di sana. Pelajaran begitu memberatkan mereka, mereka tidak dapat mengimbangi gaya belajar pada umumnya di sana dengan cara belajar dirinya sendiri. Selain itu, yang menjadi pemicunya lainnya adalah bahasa. Di beberapa negara bahasa Inggris bukanlah bahasa yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka lebih menggunakan bahasa asli negeri mereka sendiri ketimbang menggunakan bahasa internasional. Itu menjadi momok besar yang sangat menakutkan bagi para mahasiswa internasional termasuk dari Indonesia.

Selain itu, dikala depresi mereka-mereka itu malah memilih untuk mengurung diri. Apalagi jika dari mereka tinggal di suatu tempat yang fasilitas seperti kamar mandi dan dapur ada di dalam kamar, hal itu lebih meniatkan lagi bagi mereka untuk tidak bersosialisasi. Ini merupakan hal yang paling rentan, disaat seorang diri dan depresi bisa memunculkan pemikiran ingin bunuh diri.

Fakta mengejutkan juga menyebutkan bahwa keinginan untuk bunuh diri meningkat pada saat winter. Kenapa saat winter? Karena pada saat itu sinar matahari sangat kurang sehingga memberi kesan kelabu yang senada dengan rasa menyedihkan. Pada winter juga biasanya membuat orang malas untuk beraktivitas, bawaannya tidak bergairah dan selalu ingin tidur. Hal tersebut bisa memicu bagi yang sedang depresi untuk bunuh diri.

 

3. Kuliah di luar negeri itu capek, apalagi dibiayai negara

Kuliah dibiayani negara itu sebuah beban besar. Negara sendiri tidak perduli bagamana kalian belajar di sana yang penting kalian bisa lulus tepat waktu dan kembali ke Indonesia. Tapi semudah itukah? Ada beban mental yang harus kalian pikul setiap hari. Bagaimana kalau kalian tidak bisa lulus tepat waktu dan harus mengulang, retake course bahkan sampai-sampai retake year? Padahal negara cuma membayar sesuai dengan masa studi.

Selain itu kuliah dibiayani negara bukan berarti kalian tidak akan keluar uang sepeserpun. Kalian harus punya dana juga yang cukup besar, antara lain untuk pengurusan paspor, visa, dan jaminan lain kalian hidup di sana. Lalu, bagaimana untuk yang tidak mampu? Tanya sendiri sana kepada pemerintah. Jadi, jangan anggap kuliah gratis di sana itu benar-benar benar gratis.

 

4. Makanan: antara kalian anak orang kaya atau mati kelaparan

Kalian bakal dituntut untuk masak makanan kalian sendiri di sana. Lalu bagaimana kalau yang tidak bisa masak? Semua kembali ke kalian, kalian anak orang kaya atau bakal kelaparan, cuma 2 pilihan itu saja. Kalau kalian kaya ya tentu bebas bisa pilah-pilih makanan apa saja sesuai mau kalian. Makanan di sana itu sudah pasti mahal mahal. Kalau yang pas-pasan tapi tetep tidak mau masak siap-siap kelaperan ya, paling minum air sama obat maag yang banyak. Sebagai perbandingan, coba pergi ke warteg bawa duit 7 ribu pasti kalian bisa kenyang. Atau lagi marak nih sekarang ini masakan padang serba 10 ribu. Tetep yakin mau keluar negeri, makan aja susah lho.

 

5. Pertanyaan besar yang timbul ketika kembali pulang, saya bakal jadi apa?

Jangan cuma ingin keren-kerenan kuliah di luar negeri. Sebelum memutuskan untuk studi di sana kalian sudah harus punya gambaran pada saat nanti pulang bakal jadi apa, jangan kosong sama sekali. Sebuah kerugian besar kalau tidak ada sedikitpun yang kalian bawa dari sana, sudah capek-capek, mahal-mahal tapi zonk. Ya, modal kerja berbekal gelar luar negeri tentu bisa, tapi yang rugi siapa kalau setelah lulus dari sana begitu-begitu saja tidak ada bedanya sama lulusan lokal dari negeri sendiri.

 

Cermati baik-baik dan bijaklah sebelum memutuskan. Tetap semangat.

Penulis: Andro Satrio SG

Bikin ngeri! Khususnya Buat Mahasiswi Indonesia di Luar Negeri, Wajib Waspada dengan yang Satu Ini

Sejatinya dimanapun kalian berada, mengenali dan memahami seluk-beluk tempat tinggal kalian di luar negeri sangat penting sekali, terutama bagi kalian para mahasiswi yang tinggal sendiri. Kalian harus peka dengan apapun yang ada di sekitar kalian, jangan cuma cuek-cuek saja. Jangan pernah berasumsi mentang-mentang di sana itu negara maju terus dengan mudahnya bisa berpergian sana-sini tanpa khawatir ada yang menjahati.  

Harus diingat sekali lagi, negara-negara di luar sana itu menganut iklim budaya yang bebas. Meskipun banyak dari mereka mempunyai taraf pendidikan yang tinggi, tak jadi jaminan untuk mereka punya kadar rasional yang tinggi pula. Hal-hal buruk bisa saja terjadi, tak terkecuali kepada kalian nanti. Buat kalian khususnya para mahasiswi harus benar-benar berhati-hati. Sudah dengar atau tahu tidak tentang berita yang sedang hangat akhir-akhir ini? Berita ini sangat gempar di Indonesia sekarang ini.

Sebuah berita duka datang dari Belanda, salah satu mahasiswi Indonesia menjadi korban pemerkosaan orang tidak dikenal.Mahasiswi yang namanya tidak disebutkan ini mengalami musibah pada sabtu pagi (21/07/2018). Dilansir dari media lokal Belanda, kronologis kejadian tersebut ketika ia beranjak dari Stasiun Rotterdam menuju kediamannya di Herman Bavinckstraat menggunakan sepeda. Setibanya ia pada pukul 5.30 pagi waktu dan hendak mengunci sepeda, secara tiba-tiba ia langsung diserang oleh orang tidak dikenal, ia menerima sabetan rantai di lehernya dan mengalami beberapa luka lainnya. Tak diduga, kejadian nahas tersebut terjadi di kediamannya sendiri. Menurut kepolisian setempat, ia sudah lebih dulu dibuntuti dari Avenue Concordia sebelum sampai di Herman Bavinckstraat. Informasi Terkini menyebutkanpolisi setempat telah berhasil menangkap pelaku pada selasa (24/7) malam waktu setempat. Polisi berhasil membekuk pelaku melalui pengamatan CCTV. Sampai berita ini diturunkan, polisi beserta jajarannya masih terus melakukan investigasi.

Ternyata kejadian ini bukan pertama kalinya, tercatat lebih dari 5 kali wanita-wanita asal Indonesia menerima perlakuan bejat seperti ini, terlepas dari mahasiswi atau wanita asal Indonesia yang bekerja di luar negeri. Sampai-sampai fenomena ini jadi bahan “kunyahan” media asing.Lantas, siapa yang harus disalahkan dari kejadian ini?

Kesadaran yang datang dari diri sendiri itu penting. Bagaimanapun kalian-kalian yang khususnya sedang atau akan kuliah di luar negeri harus peka terhadap kesadaran diri. Dengan sadar diri kalian bisa menjadi peka terhadap segala lingkungan dimana kalian berada. Meskipun sepele, ini menjadi faktor yang sangat penting dan beguna untuk hidup disana. Tanpa kalian rasa dan sadari, ancaman-ancaman sedang mengintai kalian. Apalagi kalian sebagai perempuan, sebetulnya sangat riskan sekali. Sebagai seorang perempuan berada di negeri orang hanya sendiri, jika kurang terhadap kesadaran diri malahan bisa membahayakan diri.

Sudah jelas contohnya di atas, kejahatan terhadap perempuan khususnya bisa terjadi di mana saja, kapan saja, dan dalam situasi apa saja.Dengan mencari teman dan pergaulan yang baik saja  belum tentu cukup untuk menghindarkan kalian dari berbagai kerjahatan di luar negeri. Banyak faktor yang bisa menjadi pemicu sebuah kejahatan itu terjadi. Kenali faktor-faktor yang bisa jadi pemicu kejahatan terhadap diri kalian di luar negeri.

Kepekaan terhadap lingkungan sekitar

Sebagai seorang yang bekelana sendirian diluar negeri tentu dituntut untuk cepat beradaptasi. Hal terpenting bahasa dan budaya harus benar-benar bisa kalian atasi. Berkerumunlah dengan orang-orang yang baik dan lebih banyaklah berinteraksi dengan orang-orang Indonesia lain yang sama-sama sedang berada di sana.Hal tersebut bisa mempercepat cara beradaptasi kalian terhadap lingkungan maupun yang lainnya.

Selektif memilih teman

Mempunyai banyak teman adalalah hal yang baik. Tapi, harus dilihat dahulu bagaimana kualitas pertemannya, terlebih teman-teman dari luar negara kalian berasal. Pahami dan lebih selektiflah memilih teman. Jangan sampai teman-teman baru di sana malah menjerumuskan kalian kepada keburukan atau mungkin ke kejahatan. Meskipun tidak semua, tapi tetap waspada itu penting. Bergaul dan bertemanlah sebijak mungkin.

Gaya berpakaian

Ini penting gaes, ada pepatah yang mengatakan bahwa cara berpakaianmu menentukan kepribadianmu. Sebisa mungkin kenakanlah pakaian-pakaian yang terlihat sopan. Jangan gunakan pakaian seperti mereka yang banyak bolongnya di sana sini. Dengan berpakaian yang serba minim sangat mungkin kejahatan mengintai kalian. Kenakan pakaian yang sopan dimanapun kalian berada, hal tersebut sedikit bisa mengurangi kalian dari pada tindak kejahatan yang menyasar pada kalian perempuan-perempuan.

Sesering mungkin berkoordinasi dengan perwakilan negara

Di negara manapun kalian berada pasti ada perwakilan dari negara asal kalian berada. Karena kita ini berasal dari Indonesia, perwakilan yang menjembatani hal tersebut yaitu Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). KBRI inilah yang akan mengurus segara kegiatan administratif kalian di sana. Kalaupun kalian mendapati perlakuan buruk semisal pelecehan dan lainnya, segera laporlah kepada KBRI. Laporan Yang kalian pasti akan segera direspon dan ditanggapi.

Bergabung dengan komunitas

Tahukah kalian banyak orang Indonesia yang berhimpun mendirikan komunitas di negara-negara luar sana? Manfaatkanlah fasilitas yang ada tersebut. Cari tahu mengenai lingkungan yang kalian tinggali dari sana. Dengan mengikuti komunitas itu juga kalian akan sedikit bertambah aman karena berada satu wadah dengan orang-orang Indonesia.

Bagaimana para kartini Indonesia? Tetap semangat dan berjuanglah menggapai cita-cita di sana. Dengan niat yang baik dan juga dukungan doa pastilah kejahatan-kejahatan di luar sana akan terhindar dari kalian. Sekian.

 

Penulis: Andro Satrio SG

Ingin Kuliah di Belanda, Beasiswa Pula? Gak Usah Repot  Cari Sana-Sini, Situs Satu ini Siap Memberi Solusi

Punya rencana lanjut kuliah? kepinginnya di luar negeri? Terus maunya di negara mana? Amerika, Kanada, Belgia, Jerman, atau mungkin Belanda? Tapi maunya yang beasiswa, ada, bisa? Bisalah. Apa si yang gak bisa hari gini. Dunia teknologi informasi sekarang ini melaju pesat sekali. Barang tentu informasi mudah sekali kita bisa jumpai. Beragam hal bisa kita cari, salah satunya mengenai beasiswa. Info tentang beasiswa khususnya kuliah di luar negeri sangat banyak sekali dan tentu mudah sekali di cari. Kuliah di luar negeri bukan sekadar isapan jempol lagi.

Selanjutnya, bagi kalian yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri harus benar-benar cerdik memilih negara tempat kuliah. Hal itu bukanlah sembarang perkara, butuh perhitungan. Salah-salah nanti malah bisa tidak srek di hati. Sedikit info saja, Belanda merupakan salah satu tujuan untuk berkuliah yang baik lho. Pertama, faktor kedekatan antara Belanda dan Indonesia, jadi kalian bakalan aman kuliah di sana. Kedua, banyak orang Indonesia di sana. Banyak orang Indonesia menetap di sana entah itu bekerja maupun bersekolah lantaran kedua negara ini memiliki nilai historis yang cukup panjang dahulunya, selain itu banyak juga orang-orang keturunan Indonesia berasal dari sana. Jadi, Belanda sudah sangat familiar dengan Indonesia. Ketiga, yaitu sistem pendidikannya, sistem pendidikan tinggi di Belanda begitu lekat dengan industri. Sasarannya supaya lebih mendekatkan pelajar dengan dunia kerja. Selain itu, giatnya kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Belanda dalam hal pendidikan. Hal itu ditandai dengan banyaknya beasiswa dari pemerintah Belanda yang di sediakan untuk warga negara Indonesia.

Jika kalian benar-benar niat kuliah khusunya di Belanda, ada beberapa hal yang kalian perlu lakukan. Pertama itu mencari informasi. Jalur apa saja yang dibuka dan kampus mana saja yang sedang memberi beasiswa, kalian harus tahu. Setelah itu barulah daftar dan penuhi syarat-syaratnya. Jangan lupa juga tanggal deadline-nya. Jika nanti diterima, selamat deh kalian jadi salah satu mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Belanda.

Lebih khusus nih bagi kalian yang sedang mencari-cari nih informasi kuliah beasiswa di Belanda tapi masih bingung, kalian wajib coba salah satu situs ini, namanya Nuffic. Nuffic merupakan sebuah nirlaba kerjasama internasional dalam hal pendidikan. Mitra kontraknya yaitu dengan Kementrian Pendidikan, Budaya, & Sains Belanda, serta Kementrian Luar Negeri Belanda. Berkedudukan di Belanda, organisasi ini memiliki peran kerjasama internasional dalam hal pendidikan antara Belanda dan negara lainnya. Kalian bisa cek website-nya di https://www.nuffic.nl/.

Nuffic juga telah melebarkan sayapnya dengan mempunyai 11 kantor perwakilan di 11 negara dan Indonesia adalah salah satunya. Nuffic di Indonesia sendiri bernama Nuffic Neso Indonesia. Nuffic Neso Indonesia menyediakan informasi yang luas mengenai kuliah dan beasiswa di Belanda. Selain itu, Nuffic Neso Indonesia juga memberikan konsultasi secara cuma-cuma mengenai perkuliahan di Belanda tentunya dalam bahasa Inggris. Nuffic Neso Indonesia juga memelopori dan memfasilitasi kerja sama di bidang pendidikan tinggi antara institusi di Indonesia dengan Belanda. Selain itu mereka juga menawarkan, mewakili pemerintah Belanda, dan menyediakan beasiswa untuk warga negara Indonesia setiap tahunnya. Untuk info lebih lanjut kalian bisa kunjungi http://www.nesoindonesia.or.id/

Bagaimana, berminat atau masih ragu? Untuk lebih meyakinkan lagi silakan simak salah satu testimoni orang Indonesia yang berhasil kuliah di Belanda.

(Testimoni ini diambil dari www.nesoindonesia.or.id)

 

Siapa Mau Kuliah di Belanda?

“Jangan khawatir kuliah ke Belanda. Banyak hal bisa kita raih di luar zona nyaman kita, yang akan membentuk personal development kita menjadi lebih baik dan berkualitas.” Bramandita Resa, Alumni IHS – Erasmus University Rotterdam

Hallo semua, perkenalkan nama saya Bramandita Resa Kurnia Dewi. Saya adalah alumnus Institute for Housing and Urban Development Studies (IHS), Erasmus University Rotterdam, jurusan Urban Management and Development, tahun 2013-2014 dengan beasiswa Netherlands Fellowship Programme (NFP).

Why Netherlands?

Bagi sebagian besar orang jawabannya beragam, dari keindahan arsitektur kota Negeri Kincir Angin, kemudahan menggunakan Bahasa Inggris di sana, hingga beragamnya program studi dan universitas yang berkualitas, serta kenyamanan Belanda yang sudah seperti home away from home bagi orang Indonesia kerap menjadi daya tarik utama.

Pertanyaan ini juga sering ditanyakan pada saya. Bagi saya, secara personal, kuliah di Belanda bagaikan a dream comes true!! Kuliah di Belanda sudah menjadi mimpi saya sejak kecil, sejak pertama kali guru SD saya waktu itu menceritakan tentang Belanda: bahwa Belanda itu sebagian besar wilayahnya berada di bawah permukaan air laut, tapi bisa mengelola wilayahnya dengan baik. Bagaimana bisa ya? Bagaimana perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruangnya?

Berasal dari Cilacap, kota kecil yang memang berbatasan langsung dengan laut, sejak saat itu saya ingin sekali belajar tentang Urban and Regional Planning, dengan spesialisasi Integrated Water Resources Management, langsung dari negara yang memang bisa dianggap paling berhasil dalam hal tersebut. Selain itu, Belanda juga memahami konteks dan kondisi di Indonesia dengan baik mengingat adanya keterikatan sejarah antara Belanda dan Indonesia.

Bagi saya, kuliah di Belanda bukan hanya memberi saya bekal knowledge atau ilmu pengetahuan yang memang ingin saya dalami sejak kecil, tapi juga personal development, yang didapat dari konektivitas kita dengan orang-orang dari seluruh penjuru dunia, yang sangat open minded.

So, the answer is: why not?

Bagaimana kuliah di sana?

Soal kualitas, tidak perlu diragukan lagi bahwa universitas di Belanda merupakan jajaran universitas terbaik dunia. Selain itu, hampir setiap orang di Belanda fasih dan bersedia berbahasa Inggris. Di lingkungan pendidikan, semua jenjang pendidikan master dan doktoral yang menawarkan program internasional dilakukan dengan Bahasa Inggris. Jadi, tidak perlu khawatir harus belajar Bahasa Belanda dulu.

Dosen di Belanda juga sangat responsif dalam menjawab pertanyaan mahasiswa, juga sangat terbuka terhadap ide dan gagasan baru. Jadi, kita bisa leluasa berdiskusi dengan mereka. Fasilitas perpustakaannya pun sangat lengkap, dan didukung dengan akses jurnal ilmiah internasional yang luas dan sangat lengkap.

Lalu Beasiswanya?

Siapa bilang cari beasiswa susah? Dengan keseriusan dan ketekunan, siapa saja bisa mendapat beasiswa ke Belanda. Beasiswa yang ditawarkan sangat banyak, misalnya: StuNed, NFP, LPDP, dan masih banyak lagi beasiswa yang ditawarkan oleh universitas.

Cara mendaftarnya pun melalui sistem online, dari mendaftar universitas hingga mendaftar beasiswa. Kuncinya, luangkan waktu untuk mempersiapkan segala persyaratan untuk beasiswa, agar lengkap, menarik, meyakinkan, dan realistis. Selain itu, rajin cari informasi, salah satunya, dari Nuffic Neso Indonesia dan Study in Holland Ambassador.

Salah satu kuncinya adalah pahami target group dari beasiswa tersebut, yakinkan apakah kita memang memenuhi syarat. Lalu, pahami kapan deadline beasiswa tersebut, lalu buat time schedule, karena proses untuk melengkapi persyaratan beasiswa itu butuh waktu. Misalnya, untuk tes TOEFL IBT, kita baru bisa tes setelah sekitar 2 minggu setelah mendaftar, dan hasilnya baru diterima sekitar 1 bulan kemudian. Selain itu, mencari reference letter juga mungkin butuh waktu lama, tergantung pemberi referensi. Menulis motivation letter dan application form yang lengkap dan berkualitas juga membutuhkan pemikiran dan waktu. Dan akhirnya, proses seleksi dari universitas sendiri juga membutuhkan waktu sekitar 6 minggu. Jadi, time schedule sangat penting.

Jangan takut kuliah di Belanda karena jauh dari orang tua dan kekhawatiran lainnya. Banyak hal bisa kita raih di luar zona nyaman kita, yang akan membentuk personal development kita menjadi lebih baik dan berkualitas. Pada akhirnya, mungkin bukan yang paling pintar yang bisa dapat beasiswa, tapi yang paling matang dan lengkap persiapannya. So, lets start!

Gimana dengan kalian, ada yang berminat?

 

Penulis: Andro Satrio SG

Yakin Mau Kuliah di Luar Negeri, Merasa Pantas? Sudah Tahu Sisi Lainnya? Awas Nanti Menyesal!

Bicara kuliah apalagi ke luar negeri dengan mudah bisa kita cari. Terus, banyak juga pihak-pihak yang bisa memberikan beasiswa. Entah itu dari pihak perusahaan swasta sebagai bentuk CSR-nya kepada masyarakat dengan memberangkatkan anak-anak Indonesia untuk sekolah di luar negeri. Atau, pihak universitas di luarnya langsung yang membuka kesempatan bagi seluruh masyarakat di dunia untuk ikut serta dalam program beasiswa yang mereka adakan.

Selain itu, ada pula program yang digagas pemerintah, salah satunya yaitu program LPDP. LPDP sendiri merupakan singkatan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan. Lembaga ini berada di bawah 3 Kementrian langsung, yaitu Kemenkeu, Kemendikbud, dan Kemenag. LPDP mempunyai program yang di mana memberikan bantuan beasiswa kepada seluruh rakyat Indonesia untuk melanjutkan jenjang Magister dan Dokotralnya dalam maupun luar negeri. Tujuannya supaya SDM Indonesia berpendidikan dan berkualitas, serta berdampak dan berkontribusi bagi negara ke depan.

Bagi kalian para pemburu beasiswa ini mungkin sudah pahamlah bagaimana proses pendaftaran beasiswa itu seperti apa, terus bagaimana metode seleksinya, dan bagaimana sampai dinyatakan lolos dan bisa mendapatkan beasiswa. Itu sudah makanan sehari-hari kalian mungkin ya, tidak perlu dibahas lagi sepertinya. Pastinya satu perlu digaris bawahi, dapat besiswa itu susah, sudah itu saja.

Untuk bahasan kali ini yaitu mengenai bagaimana sisi lain kuliah setelah mendapatkan beasiswanya. Khususnya bagi kalian yang sudah membulatkan tekat “Pokoknya harus gimanapun caranya,mending dipikir-pikir dulu deh. Mending urungkan niat kalian dari sekarang dari pada menyesal kemudian, nanti bisa berabe lagi.

Bicara kuliah siapa yang tidak mau coba, terlebih dibiayain, di luar negeri pula, berasa paling beruntung di dunia agaknya. Bisa studi di luar dengan orang-orang dari negara lain, punya teman baru, bukan orang Indonesia melulu, keren memang. Terus, pas sudah lulus dan pulang kembali ke Indonesia rasanya bak pahlawan yang habis pulang dari medan perang. Apa nyatanya seperti itu? Jika dari kalian ada yang berpikiran seperti itu kalian salah besar.

Kuliah di luar negeri itu tidak segampang apa yang kalian mungkin bayangkan. Kuliah di luar negeri harus punya kesiapan yang benar-benar matang dan terlebih mandiri. Ya mandiri lah, karena nantinya apa-apa harus kalian lakukan sendiri. Bagi yang “anak mama,” yaudah deh bye-bye jangan harap, baru satu minggu di sana sudah minta pulang lagi.

Bukan maksud untuk menakut-nakuti ya, tapi memang kenyataannya demikian. Kalian dituntut punya strategi lebih dulu, jangan sampai nanti menyerah sebelum berperang. Kalau kalian kuat sih ya bagus, nilai lebih untuk kalian, tapi apakah semua bisa seperti itu.

 

Kalian Orang Indonesia

Pertama, kalian-kalian ini kan adalah orang Indonesia, orang yang lahir dan besar di Indonesia. Indonesia sendiri menganut budaya ketimuran. Nah, jika kalian nanti berniat ingin kuliah di luar semisal Eropa atau Amerika hal yang pertama kalian harus taklukan adalah culture shock. Sebab, budaya mereka berbeda dengan budaya yang kita punya. Mereka menganut budaya barat, budaya yang boleh dibilang bebas. Otomatis kita harus menyesuaikan dan memahami budaya-budaya mereka karena nantinya kita cukup lama tingal di sana. Tidak mudah lho menyesuaikan budaya mereka seperti membalikkan telapak tangan. Jangan sampai malahan kalian yang bisa merasa depresi, homesick, bahkan minta pulang karena saking tidak tahannya. Makanan di sana pun berbeda. Apa lidah Indonesia kalian sudah dilatih untuk mengecap makanan-makanan ala-ala barat? Terlebih, sedikit sulit untuk mencari makanan yang halal di sana. Jadi, kalian harus perhatikan itu.

 

Anggapan Miring

Kedua, anggapan miring ketika kalian sedang belajar di luar negeri. Kenyataannya seperti itu, niat mulia kita mungkin saja bisa disalah artikan oleh sebagian orang. Mereka menganggap kalian kuliah di sana cuma untuk senang-senang, hura-hura, cuma ingin bisa keluar negerinya saja. Omongan seperti itu bukan saja berasal dari lingkungan di mana kita biasa berada, bahkan kerabat terdekat kita sendiri pun bisa saja beranggapan demikian. Sebab, pikir mereka luar negeri itu identik dengan jalan-jalan, senang-senang. Lagi pula tidak ada yang tahu juga aktivitas kalian di sana seperti apa, bisa sebebas-besanya saja mereka melontarkan persepsinya.

 

Lupa Teman Lama

Ketiga, mulai melupakan teman di negaramu sendiri. Pastinya di sana kalian akan mempunyai teman baru lebih hebatnya lagi beragam dari pelbagai negara. Sehingga, jaringan yang kalian punya akan bertambah luas. Selain itu, nantinya kalian akan lebih sibuk dengan teman-teman baru karena akan beraktivitas di satu ruang lingkup yang sama dan dalam waktu yang lama pula. Lantas bagaimana kawan-kawan kalian di kampung halaman? Mungkin dengan canggihnya teknologi sekarang ini bisa saja sedikit teratasi. Kalian bisa tetap berkomunikasi meskipun berbeda jarak, tidak ada penghambatnya. Hanya saja, kualitas face-to-face secara langsung itu sangat penting. Jangan sampai sepulangnya kalian nanti malah bisa mengurangi esensi kualitas pertemanan kalian dengan teman ataupun sahabat. Sesampainya nanti malah melupakan teman-teman kalian yang ada di Indonesia karena merasa kalian sudah go International.

 

Kehidupan Bebas

Keempat, terbawa kehidupan bebas di sana. Seperti sudah dijelaskan tadi bahwa budaya mereka adalah budaya yang bebas. Obat-obatan, minum-minuman, bahkan seks pun tidak awam di sana. Apakah kalian sudah siap dengan hal tersebut? Apakah yakin tidak akan terjerumus? Ya berdoa saja semoga jangan sampai yang demikian terjadi pada diri kalian. Kalian ini belajar di sana untuk mengharumkan nama bangsa bukan malah sebaliknya. Harus benar-benar diniatkan bahwa tujuan kalian di sana hanya sebatas menuntut ilmu, tidak lebih. Ambil yang positif-positifnya saja dari budaya mereka.

 

Hidup Sendiri

Kelima, hidup sendiri. Siapa bilang hidup sendiri itu enak. Mungkin satu waktu kita pernah berbica kepada orang tua kita, “Aku itu udah besar, aku pengen bebas, aku pengen bisa sendiri.” Jika benar-benar diperhadapkan dengan situasi seperti itu apakah kalian benar-benar siap? Jauh dari, orang tua, tidak ada kenalan ataupun sanak saudara di sana, apa-apa mesti dilakukan sendiri. Yakin? Percayalah kenyataan itu lebih sulit dari apa yang kita bayangkan.

 

Ingat Kalian Orang Asing

Keenam, ingat kalian itu orang asing. Tidak sembarang orang bisa mereka terima di sana. Apalagi kita ini yaitu negara dengan mayoritas muslim. Tanpa menyinggung agama apapun ya, tapi pasti gerak-gerik kalian benar-benar sangat diawasi di sana. Apa enak hidup seperti itu? Pikir-pikir dahulu lah.

 

Reverse Culture Shock

Ketujuh, reverse-culture shock. Setelah beberapa tahun di sana tentunya kalian sudah terbiasa dengan budaya di sana. Namun, seketika pulang kembali ke tanah air budaya dari sana pasti akan terbawa dalam diri kalian. Kalian harus kembali menyesuaikan diri dengan budaya negeri sendiri. Agak sedikit aneh memang, tapi begitulah kenyataannya. Melelahkan bukan?

 

Ijazah

Terakhir, penyetaraan ijazah. Nah ini nih paling penting. Kalian itu kan kuliah di luar negeri, tentunya kurikulumnya berbeda dengan di Indonesia. Untuk itu, harus dilakukan penyetaraan. Tidak langsung gelar yang kalian dapat dari sana bisa dipergunakan di Indonesia, butuh proses untuk menyesuaikannya. Selama belum dilakukan penyetaraan, gelar asing yang kalian dapat masih dikatakan belum berlaku. Ingat, proses penyetaraan ijazah itu panjang dan merepotkan lho. Dilain kasus, ada gelar dari sana yang tidak sesuai dengan kurikulum pendidikan di Indonesia. Alhasil, sia-sialah pengorbanannya. Kuliah lama-lama, jauh-jauh tapi tidak diakui. Bagaimana rasanya? Mungkin bisa saja dipakai di negara asalnya, akan tetapi apakah semudah itu bisa mendapatkan pekerjaan di negeri orang? Pikir sendiri.

 

Jadi bagaimana, tetap mau lanjut cari kuliah ke luar negeri atau malah takut. Ingin lanjut di Indonesia saja? Bebas, itu terserah kalian, tergantung bagaimana kalian menentukan sikap. Intinya harus punya tekat yang benar-benar kuat dan benar-benar bisa mempertanggungjawabkannya. Sekian.

 

Penulis: Andro Satrio SG