Mau Beasiswa Ke Swedia? Bisa! Tips Ini Bisa Membantu

Kuliah, kuliah, dan kuliah sebuah mimpi yang susah-susah gampang diwujudkan. Melanjutkan pendidikan tinggi sudah tentu setiap orang mau. Apalagi hal itu bisa terwujud di luar negeri. Sudah tentu dambaan semua orang. Beasiswa menjadi hal yang penting agar dapat melanjutkan kuliah di luar negeri.

Melanjutkan kuliah di luar negeri sepertinya enak ya. Di kawasan Eropa atau Amerika gitu, prestise sekali agaknya. Kalau ada niat cobalah dilaksanakan. Mau ke negara mana, Swiss, Belgia, Italia, atau Swedia?

Kalau ada yang berniat lanjut studi di Swedia pas sekali. Swedia merupakan sebuah negara yang indah dan juga nyaman. Selain itu lingkungan pendidikannya yang mendukung sekali semangat belajar.

Tahukah kalian bahwa di Swedia itu kuliah gratis. Tidak ada biaya-biaya yang diminta untuk bisa belajar di sana tanpa memandang kalian dari negara manapun. Hanya saja setiap mahasiswa yang diterima diwajibkan menjadi anggota organisasi mahasiswa setempat dengan biaya berkisar SEK 300-500 per semester. Kalau kalian tidak terdaftar, nilai tidak akan bisa dimasukkan ke dalam database kampus.

Nah, bagi kalian yang sudah punya niat lanjut ke Swedia ada beberapa referensi yang mungkin bisa kalian coba. Selain program bawaan pemerintah, kalian patut coba juga beberapa opsi ini, siapa tahu bisa benar bawa kalian ke Swedia. Kalau ikut LPDP waduh saingannya banyak sekali, kenapa tidak langsung mencari beasiswa langsung dari universitasnya. Selain saingannya yang lebih sedikit, pasti juga persyaratannya lebih mudah.

 

Dii bawah ini ada 3 referensi beasiswa di Swedia yang ayak kalian coaba, simak baik-bak ya.

 

Coba Beasiswa Dari Swedish Institute

Swedish Institute adalah sebuah agensi pemerintahan di Swedia yang bertugas untuk menyebarkan informasi mengenai Swedia ke Negara lain. Salah satu programnya adalah memberikan beasiswa dengan nama Swedish Institute Study Scholarships (SISS) yang dapat di apply oleh masyarakat Indonesia. Terdapat berbagai jenis beasiswa lain, namun hanya SISS yang bisa kita apply.

Beasiswa Swedia dari SISS ini akan mengcover

  • Seluruh biaya kuliah
  • Biaya hidup perbulan sebesar 9000 SEK/month
  • Travel cost 15000 SEK
  • Biaya pembuatan visa
  • Asuransi selama berada di Swedia
  • Kesempatan bergabung dengan SI network for future global leaders

Seleksi beasiswa ini dilakukan dalam 2 tahap, pertama melakukan pendaftaran universitas di universityadmissions.se Kemudian tahap berikutnya adalah melakukan pendaftaran beasiswa Swedish Institute di website-nya resminya (Ingat bahwa WNI hanya bisa mengapply tipe beasiswa ini)

Adapun persyaratannya (untuk tahun ini) adalah sebagi berikut:

  • motivation letter with swedish institute format
  • CV with europass format
  • 2 letter of reference with Swedish Institute format
  • Proof of work and leadership (3000 hours work experience) with swedish institute format
  • Copy of passport

Untuk diingat salah satu syarat mendaftar beasiswa ini adalah kalian harus memiliki pengalaman kerja full time ataupun part time selama 3000 jam atau setara dengan 1,5 tahun pengalaman kerja (Namun saya kemarin juga memasukkan pengalaman menjadi asisten lab di kampus dan bekerja selama di kampus), Kemudian Jurusan yang di-apply harus masuk kedalam list prioritas dari Swedish Institute (Daftar Jurusan yang bisa di-apply). Karena biasanya kita bisa mendaftar lebih dari 1 jurusan maka saat meng-apply beasiswa ini, kita wajib men-submit jumlah dokumen sebanyak jumlah jurusan yang kita apply. Contoh bila kita mendaftarkan 4 jurusan di universityadmission maka jumlah dokumen yang di-submit adalah sebanyak 4 buah untuk masing-masing jurusan.

Bagaimana peluang untuk mendapatkan beasiswa? Untuk tahun ini jumlah beasiswa yang dibagikan sebanyak 60 beasiswa untuk kategori 2, dimana kategori 2 terdiri dari beberapa negara seperti Brazil, Indoensia, Mesir, Vietnam, kolombia, Ghana dan Iran.

 

Beasiswa Dari Innoenergy Bisa Membawamu Berkuliah di Universitas TOP Eropa

Untuk kalian yang berniat melanjutkan master dengan fokus kearah renewable energy dan sustainable development maka Innoenergy menjadi pilihan yang tepat untuk diambil. Terdapat 7 program yang ditawarkan oleh Innoenergy seperti smart city, renewable energy, nuclear, smart electrical network dan masih banyak lagi.

Cek website beasiswanya di sini: http://www.innoenergy.com/education/master-school/

Program ini akan membawamu ke 2 universitas yang berbeda di Eropa, seperti KTH Royal Institute of Technology di Swedia, KU Leuven di Belgia, Eindhoven University of Technology di Belanda dan masih banyak lagi. Pada program ini kamu akan menghabiskan setiap tahunnya di kampus yang berbeda.

Akan terdapat 3 bentuk penerimaan saat pengumuman natinya yang pertama

  • Diterima secara full, yaitu mendapatkan biaya hidup perbulan sebesar 7000 SEK dan biaya kuliah digratiskan
  • Diterima partial yaitu biaya kuliah digratiskan
  • Diterima di program namun harus membayar uang kuliah

Terdapat beberapa syarat untuk mendaftar program ini yaitu

  • Bachelor’s degree certificate
  • Transcript akademik
  • Proof of English proficiency
  • CV
  • copy of passport
  • motivation letter untuk program tertentu
  • Pertanyaan mengenai motivasi dan pengalaman dalam bidang inovasi dan kewirausaahan (Pertanyaan ini akan diberikan saat mengapply secara online di website innoenergy)
  • Dokumen tambahan seperti internship, pengalaman kerja dan prestasi

 

Perhatikan Beasiswa dari Kampus

Informasi mengenai beasiswa ini memang patut dicari sendiri sebab informasinya tersebar dimana-mana. Beasiswa ini adalah mengenai KTH Scholarship dan KTH Master Challenges

Untuk peraih beasiswa KTH Scholarship, maka anda akan mendapatkan fee waiver selama tahun pertama dan kedua berkuliah di KTH. Syarat untuk meng-apply beasiswa ini adalah:

  • GPA
  • University ranking of applicant’s bachelor degree
  • Selection process and recommendation of the director of the applied master’s programme
  • Applicant’s motivation, relevant work experience and extra-curricular activities

Untuk beasiswa KTH Master Challenges, hanya diperuntukan untuk pelajar dari India dan juga Indonesia. Untuk program yang ditawarkan kepada pelajar Indonesia sendiri terdapat jurusan Machine Learning dan Vehicle Engineering. Seleksi beasiswa ini berupa kompetisi dimana pelamar akan diberikan quiz dan juga case study untuk diselesaikan. Hanya saja untuk tahun ini deadline dari beasiswa ini sudah selesai.

Namun biasanya beasiswa jenis ini selalu diadakan seperti tahun lalu diadakan oleh Chalmers University dengan jurusan Telecommunication Engineering, dan 2 tahun sebelumnya diadakan kembali oleh KTH dengan jurusan yang diberikan beasiswa adalah Vehicle Engineering dan Aerospace Engineering.

 

(Sumber materi: http://techraveller.com/4-jenis-beasiswa-kuliah-di-swedia/)

 

Penulis: Andro Satrio SG

Jangan Asal Pilih Beasiswa. Salah-Salah Bisa Kena Tipu

Saking kepingin kuliah, eh tiba-tiba ada yang ingin memberi beasiswa, gak usah pikir panjang, terima saja. Selagi ada kapan lagi ya kan?

Yakinkah itu beasiswa benaran? Apalagi zaman sekarang ini, penipuan marak di mana-mana lho. Pikir panjang dulu, jangan sembarang terima. Syukur-syukur kalo itu benaran. Kalo bohongan bagaimana? Sudah habis waktu, bisa-bisa uang juga melayang. Jangan sampai dibutakan beasiswa ya teman-teman.

Model penipuan sudah banyak sekali. Mulai dari jual beli online sampai-sampai “mama minta pulsa” ada. Lebih parahnya lagi, penipuan kini sudah menyasar ke pembiayaan pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Semakin hari biaya pendidikan tinggi semakin melambung. Faktanya tidak dibarengi dengan pendapatan orang tua. Alhasil, banyak orang tua menjerit karena tak mampu menyekolahkan anak-anaknya. Padahal, anak-anak itu punya semangat yang tinggi untuk terus belajar. Tinggal satu jalan, yaitu melalui program beasiswa. Inilah yang dimanfaatkan para penipu. Mereka berkedok sebagai lembaga pemberi beasiswa, tapi nyatanya bermaksud meraup keuntungan.

Para penipu menargetkan sasarannya adalah siswa SMA/sederajat yang baru lulus dan mahasiswa yang galau tidak mampu membiayai kuliah untuk selanjutnya. Mereka mengiming-iming akan memberikan beasiswa dengan syarat yang sangat mudah dan 100% dijamin. Mengetahui hal itu siapa yang tergiur coba. Tapi, ini hanya akal bulus mereka saja.

Modus-modus seperti ini sudah banyak sekali terjadi. Untuk itu waspada itu penting. Jangan asal apply mentang-mentang syaratnya mudah dan beasiswanya besar. Kroscek dulu lebih detail. Siapa yang memberi beasiswa, kalian bisa cek kredibilitasnya, sumber pendanaannya, dan apa saja yang ditanggung selama menerima beasiswa. Untuk itu nih, untuk menghindari beasiswa gadungan kalian harus mengenali ciri-cirinya seperti apa. Simak penjelasannya di bawah ini.

 

 

  • Langsung Diterima

 

Mendapat beasiswa itu tidak gampang lho. Harus ada macam-macam syarat sebagai kualifikasi yang harus dipenuhi. Menurut situs Scholarships.com “Kamu harus selalu mengajukan permohonan beasiswa untuk mendapatkannya. Jika kamu menerima e-mail yang mengatakan bahwa kamu telah memenangkan beasiswa dari organisasi yang kamu belum pernah dengar sebelumnya, biarkan saja, abaikan. E-mail seperti itu bisa jadi sebuah penipuan phishing internet atau penipuan jenis lainnya.” Bagaimana mungkin bisa dengan mudah langsung diterima? Terlebih syarat yang diminta mudah sekali. Apalagi kalian yang merasa tidak pernah mendaftar, harus benar-benar wasapada. Ingat! Beasiswa itu butuh usaha keras. Sudah usaha keras saja belum tentu dapat beasiswa, lah ini bisa mudah sekali, sangat tidak masuk diakal.

 

  • Biaya Di Awal

 

Sebagai syarat diberikannya beasiswa harus membayar uang sejumlah tertentu untuk biaya pendaftaran. Kok begini? Janji mau kasih biaya malahan kita yang diminta biaya duluan, aneh kan. Kalau seperti ini kasusnya, bisa dikatakan 99% penipuan. Dimanapun pemberi beasiswa itu menggratiskan semua, mulai awal hingga akhir. Kalaupun ada —sangat sedikit sekali— pasti pihak pemberi beasiswa menjelaskan secara rinci untuk apa biaya itu digunakan. Selain itu, beasiswa resmi akan mencantumkan nomor rekening beserta jumlah pasti yang harus dibayarkan.

 

  • Deadline yang Aneh

 

Beasiswa pada umumnya akan memberikan tenggat waktu yang cukup lama dan tetap untuk mengumpulkan berkas. Waktu yang lama diberikan supaya semua syarat betul-betul terlengkapi. Bahkan, berkas harus sudah lengkap jauh-jauh hari sebelum deadline tersebut tiba. Jika beasiswa yang mengharuskan kalian melengkapi berkas cepat-cepat, bisa dikatakan beasiswa palsu. Sebagai contoh, “Selamat! Kamu mendapatkan beasiswa penuh untuk kuliah! Lengkapi berkas sebelum jam 10 malam!”. Mana ada model beasiswa seperti itu, kalian bisa pikir sendiri lah.

 

  • Meminta Informasi Keuangan Pribadi

 

Memang benar beasiswa itu meminta data pribadi sebagai syarat administrasi. Tapi biasa hanya sebatas identitas diri, data keluarga, pendidikan, prestasi, tempat tinggal, itu saja. Kalau sampai ada pihak pemeri beasiswa yang meninta informasi terlebih masalah keuangan kalian, harus waspada. Nomor rekening, nomor kartu kredit, saldo di rekening, bahkan PIN kartu ATM kalian, sudah pasti itu adalah modus penipuan.

 

  • Kalian Adalah Spesial

 

Modus model ini ditujukan untuk membesar-besarkan kalian. Dari modus ini, tanpa pikir panjang kalian segera mentransfer sejumlah uang ke mereka. Kalian akan dibuat menjadi orang yang hebat dengan pujian mereka sehingga kalian terbuai. Waspada!

 

  • Dihubungi Terus Pemberi Beasiswa

 

Jika kalian dihubungi terus-menerus pemberi beasiswa entah melalui telpon atau media lainnya bahkan cenderung memaksa, jangan mudah percaya. Selidiki dahulu siapa yang menghubungi kalian, benar-benar institusi resmi atau bukan dan atas dasar apa mereka menjadikan kalian kandidat utama peraih beasiswa, cari tahu-benar-benar. Harusnya calon penerima beasiswa yang aktif mencari dan menghubungi bukan malah kebalikannya.

 

  • Situs Aneh dan Logonya

 

Beasiswa bodong biasnya asal catut logo baik itu logo universitas, bank, atau institusi lain. Selain itu, situs-situs beasiswa penipuan di internet menggunakan domain yang tidak lazim pada umumnya. Menggunakan blogspot, dot xyz, dot es, domain-domain yang pada dasarnya adalah gratis. Sebagai tindakan prefentif, cari tau bahkan kalau bisa hubungi pihak-pihak yang dicantumkan namanya. Hal yang demikian guna mecari tahu kebenaran informasi yang ada.

 

Penulis: Andro Satrio SG

Bukan Cuma Kuliah yang Gratis. Ada Manfaat Lain Ketika Mendapatkan Beasiswa

Dana untuk pendidikan tinggi yang mahal jadi penghambat utama setiap orang untuk memutuskan kuliah. Untuk menyiasatinya ada satu jalan, mendapatkan beasiswa. Dengan mendapat beasiswa sangat dimungkinkan untuk meringankan beban orang tua. Hanya saja jalannya tidak mudah, harus melewati beberapa seleksi dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

Tujuan adanya beasiswa adalah untuk membantu dalam hal pembiayaan supaya mereka bisa menimba ilmu sesuai bidang yang diinginkan, tertuju bagi yang mempunyai masalah dalam hal pembiayaan. Bukan berarti juga beasiswa selalu untuk orang yang kurang mampu. Terpenting untuk semua orang yang memang sanggup lolos dan mampu memenuhi syarat.

Nah, selain mendapatkan beasiswa ada manfaat lain yang bisa didapat setelah mendapatkan beasiswa lho. Mari simak dengan seksama.

  1. Meringankan Biaya

Dengan mendapatkan beasiswa apalagi beasiswa penuh kalian tidak perlu mengeluarkan uang lebih dari kocek sendiri.  Bahkan, sebagian dana beasiswa bisa kalian alokasikan ke hal lain yang bermanfaat. Semisal ikut seminar, membeli buku, atau sekadar membeli makanan.

  1. Bahan Motivasi Belajar

Setiap penerima beasiswa diharuskan untuk mempertahankan nilai bahkan harus lebih meningkat setiap semesternya. Jangan sampai nilai menurun yang berakibat beasiswa bisa dicabut. Untuk itu, harus ada usaha lebih giat untuk belajar kalau bisa lebih dari teman-teman lain. Sebab, perjuangan beasiswa bukan hanya sampai mendapatkannya saja, melainkan bagaimana cara mempertahankannya.

  1. Jangkauan Pertemanan Luas

Melalui beasiswa kalian akan bertemu dengan penerima beasiswa lain. Penerima beasiswa ini berasal dari berbagai macam kalangan Tak menutup kemungkinan juga berbeda kewarganegaraan. Tetunya jika kalian menerima beasiswa program luar negeri. Hal ini akan membuat pertemanan kalian menjadi lebih luas. Selain itu, dengan pertemanan yang luas secara tidak langsung dapat membuat cara berfikir menjadi lebih terbuka.

  1. Lebih Mudah Kerja

Dengan kalian sebagai penerima beasiswa sangat terbantu sekali. Sebab perusahaan akan condong lebih percaya kepada lulusan-lulusan hasil dari beasiswa dibanding lulusan lain. Itu mengapa karena penerima beasiswa bukan orang-orang sembarangan yang telah bisa lolos melewati tahapan-tahapan seleksi yang sulit.

  1. Jadi Motivator

Sukses tembus beasiswa dengan segala pengalaman yang pernah dilalui dapat kalian share kepada orang lain yang juga ingin seperti kalian. Idak menutup kemungkinan kalau kalian nantinya akan diundang untuk mengisi sebuah acara atau seminar beasiswa sebagai pembicara. Sembari membantu orang lain, dilain sisi kalian juga bisa dapat tambahan pemasukan.

Bagaimana? Menarik bukan? Sekali mendayung, 2-3 pulau terlampaui. Tetap semangat.

Banyak Orang Indonesia Dikuliahkan ke Luar Negeri. Ada yang Salah di Kampus Negeri Sendiri?

Gencarnya program belajar ke jenjang tinggi yang dicanangkan pemerintah riuh rendah sekali beberapa tahun belakangan ini. Terlebih program pemerintah ini ditujukan untuk orang Indonesia supaya bisa mengembangkan diri dengan kuliah ke luar negeri dan difasilitasi. Ya difasilitasi, artinya diberikan beasiswa. Beasiswanya pun beragam, kalian bisa carilah sendiri. Mulai dari yang full beasiswa langsung dari pemerintah hingga kerjasama antara negara-negara sana dengan Indonesia sendiri.

Dilihat secara luas hal yang demikian bagus adanya. Dengan kata lain pemerintah secara terang-terangan menunjukkan keseriusannya dalam hal mencerdaskan bangsa. Hal tersebut berdampak kepada anak-anak Indonesia, program ini seakan membakar semangat mereka untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik yang bisa menimba ilmu sebanyak-banyaknya di kampus-kampus nomor wahid di dunia.

Pendanaan luar biasa banyaknya yang digelontorkan pemerintah membuka peluang secara besar-besaran bagi generasi muda. Beasiswa ini seakan menjadi ajang kompetisi bak calon-calon bintang yang siap tenar dari pencarian bakat di televisi. Hal tersebut positif karena menjaring bakat-bakat yang memang layak dan setelah kembalinya dapat berkontribusi nyata bagi negeri. Anggap saja negara sedang berinvestasi.

Nyatanya, apakah efektifkah program ini sendiri bagi negeri, mari kita lihat dari sudut pandang lain. Dengan adanya beasiswa ke luar negeri sebenarnya memberikan kepada negara lain waktu dan tenaga dalam hal kemajuan pengetahuan dan penelitian mereka menggunakan uang kita sendiri. Jadi, bukan hanya SDMnya saja yang kita berikan kepada mereka tapi beserta dana pengembangannya yang cukup besar juga. Apalagi di beberapa negara ada yang mewajibkan pembayaran semacam uang SPP, itu harus ditanggung oleh negara juga. Selain itu, dengan adanya mahasiswa Indonesia di sana sedikit banyaknya membantu mereka dalam hal penelitian melalui karyasiswa mahasiswa Indonesia. Di lain hal, negara kita memberi devisa yang cukup lumayan bagi mereka.

Contohnya, lihat saja Beasiswa LPDP yang digelontorkan Kemenkeu. Beasiswa LPDP siap mengeluarkan dana sebanyak ± 3 Milyiar dalam bentuk SPP di muka bagi karyasiswa doktoral di Naval Academy AS. Belum lagi di negara-negara yang mewajibkan SPP bagi setiap mahasiswanya, akan ada dana lebih yang di keluarkan negara.

Nyatanya hal yang demikian tidak sejalan di kampus negeri sendiri. Modal penelitian bagi mahasiswa S3 hanya berkisar pada ratusan juta saja.  Bandingkan, untuk mencetak satu doktor di luar negeri sebanding dengan mencetak puluhan doktor di dalam negeri sendiri. Adakah yang salah di kampus sendiri?

Hal ini seakan menjadi pukulan bagi kampus-kampus dalam negeri. Sudah ditinggal orang-orang bertalenta ke luar negeri, dalam hal pendanaan pun kampus dalam negeri seperti dianaktirikan. Padahal itu untuk memajukan negeri melalui penelitian di negeri sendiri. Lantas, Tepatkah pemerintah menghimpun anak-anak bangsa untuk berguru jauh ke luar negeri? Jika menilik lebih dalam, harusnya kebijakan ini perlu direvisi.

Coba sama-sama cermati, jika generasi muda banyak yang dikirm ke luar negeri, lalu siapa yang mengembangkan ilmu pengetahuan di kandang sendiri? Harusnya pemerintah benar-benar peduli mengenai hal ini. Harusnya pemerintah lebih fokus ke dalam negeri ketimbang menghabiskan uang dengan cara begini.

Menurut fakta, pendidikan doktoral itu dibarengi dengan penelitian. Mereka yang mengejar gelar doktor akan sia-sia jika tidak melakukan penelitian, begitu juga sebaliknya. Penelitian itu bukan dilakukan oleh dosen sebuah universitas, dalam artian bukan merekalah yang melakukan penelitian secara teknis. Mahasiswa doktoral yang harus melakukan penelitian teknis di lapangan ataupun di laboratorium. Dosen hanya berperan sebagai tim penyusun konsep proposal penelitian, metode yang harus dilakukan, dan memonitor progres penelitian karena pada dasarnya dosen lebih mengarah kepada pengajaran.

Dalam penelitian biasanya para mahasiswa dimasukkan ke dalam proposal penelitian  sebagai elemen yang mendapatkan biaya untuk peneliti. Biaya tersebut digunakan antara lain untuk keperluan biaya SPP dan gaji bulanan (itulah yang disebut beasiswa). Dana SPP dianggarkan sebagai keperluan administratif mahasiswa di universitas untuk mendapatkan gelar akadamik dari universitas tersebut. Sedangkan gaji dianggarkan sebagai bahan pengganti waktu, tenaga, dan pikiran yang selama ini diberikan peneliti dalam menjalankan penelitiannya.

Situasi yang sedikit berbeda kita alami di negeri sendiri, macam penelitian seperti ini bisa dikatakan tidak berjalan dengan baik. Minimnya pendanaan bagi penelitan berdampak nyata.  Sedikit sekali proposal penelitian yang mendapatkan anggaran untuk melaksanankan penelitiannya. Sedikitnya kucuran dana tersebut berimbas kepada kurang produktifnya akademisi untuk berkarya. Sampai-sampai penelitian dalam negeri menjadi macet dan menjadikan kurang adanya sumbangsih nyata para cendekiawan bangsa dalam memajukan ilmu pengetahuan. Meskipun tiap-tiap universitas di dalam negeri mempunyai anggaran untuk melakukan penelitian sendiri itupun sangat terbatas, tidak sebanding. Kalau dibiarkan terus-menerus negara kita bisa benar-benar tertinggal dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan.

Selanjutnya, apakah pemerintah bisa menjamin setelah kembalinya anak-anak Indonesia dari luar negeri bisa benar benar berkontribusi? Dana yang sudah diberkan jorjoran itu bisa menghasilkan dampak yang nyata tidak? Belum tentu juga doktor-doktor lulusan dalam negeri kalah bersaing dengan hasil didikan luar negeri. Semua kembali kepada keoriginalitasan karya yang dibuat.

Pemerintah harusnya lebih mengokohkan pendidikan dalam negeri lebih dahulu alih-alih memberangkatkan anak-anak terbaik negeri mengembara jauh ke luar sana. Sangat disayangkan sekali 3 Milyar habis cuma menghasilkan 1 doktor saja. Fokuskan lebih besar dana dengan memberikan beasiswa kepada anak-anak bangsa untuk belajar di dalam negeri. Hal itu juga memberikan kesempatan bagi universitas dan civitas di dalamnya menggaet mahasiswa berprestasi untuk menghasilkan karya nyata yang berdaya guna bagi negeri dan dengan bangganya dihasilkan negara sendiri. Berimbas juga terhadap peran dosen, pekerjaan dosen akan beragam, bukan hanya mengurusi jenjang-jenjang yang di bawahnya saja. Niscaya, dari itu siklus dan kultur pendidikan di Indonesia akan mulai merekah. Bahkan bukan tidak mungkin suatu saat nanti jika iklim pendidikan kita sudah maju dengan pesat malah bisa membuat mereka-mereka itu yang berguru pada kita.

 

Penulis: Andro Satrio SG

Lecutan Motivasi! Dari Guyuran Bonus Melimpah, Rumah, PNS, Hingga Dibiayai Lanjut Kuliah

Gelaran Asian Games ke-18 di Indonesia telah usai. Indonesia mengukuhkan dirinya di posisi 4 dari 44 negara yang berlaga dengan perolehan medali sebanyak 31 emas, 24 perak, dan 43 perunggu. Belum lagi 1 emas dan 1 perak dari cabor demonstrasi eSports (tidak dihitung di perolehan klasemen medali). Dengan hasil ini jelas di luar target awal. Indonesia sebelumnya hanya ditargetkan bertengger di posisi 10 besar dengan capaian minimal 16 medali emas.

Jelas ini menjadi prestasi yang membanggakan bagi Indonesia. Presatasi yang mungkin susah untuk Di luar dari kesiapan penyelenggara yang luar biasa, perjuangan atlet juga harus diacungi jempol. Hasil yang didapat ini tentu melalui proses panjang dan usaha sangat keras. Bagaimana cakapnya tiap-tiap pengurus cabor menyiapkan atletnya, ini merupakan bukti kesiapan yang matang.

Karena itu, sudah sepatutunya pemerintah memberikan ganjaran yang setimpal. Ya, benar saja pemerintah melalui Kemenpora mengapreasiasi betul-betul setiap atlet yang berlagi pada Asian Games kali ini. Sudah lama digaungkan bahwa peraih medali akan diberikan bonus, terbesar tentu mendali emas dengan bonus 1,5 M. Tapi bukan itu saja, bagi yang belum mengahasilkan medali pun tetap mendapatkan bonus. Besarannya berada di angka 20 juta.

Bukan cuma atletnya saja yang diberikan bonus. Pelatih dan asisten pelatih juga dapat. Nomialnya beragam, yang terbesar untuk pelatih dan asisten pelatih beregu yakni 600 juta untuk pelatih dan 300 juta untuk asisten pelatih.

Selain bonus uang tunai, pemerintah juga memberikan penghargaan kepada para atlet peraih medali Asian Games berupa pengangkatan status sebagai pegawai negeri sipil dan bonus rumah dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Selain itu, para peraih medali akan dikuliahkan secara gratis. Bagi yang masih SMA dan ingin melanjutkan ke perguruan tinggi akan disediakan beasiswa bidikmisi. Bagi sedang mengenyam pendidikan strata 1 baik negeri maupun swasta akan dibebaskan sepenuhnya dari biaya kuliah hingga lulus, begitu kira-kira janji Menristekdikti. Bukan cuma itu saja, baru-baru ini Institut Pertanian Bogor (IPB) menyatakan siap untuk memberikan beasiswa. Beasiswa ini  merupakan beasiswa pascasarjana yang dikhususkan untuk peraih medali emas Asian Games 2018. Belum lagi pihak-pihak swasta yang memberikan bonus kepada para atlet. Entah itu berupa uang, fasilitas, ataupun beasiswa.

Semua merupakan bentuk apresiasi atas kerja keras, upaya, dan daya para atlet untuk mengharumkan nama bangsa. Mereka rela meninggalkan keluarga, kehidupan pribadinya, aktivitas rutinnya hanya untuk satu tujuan, membela merah putih.

Segudang bonus yang diberikan itu sangatlah bermanfaat bagi atlet. Bonus-bonus tersebut berguna untuk menjamin kesejahteraan atlet. Bisa digunakan untuk membeli hunian atau merintis usaha. Semua untuk menjamin hari tua.

Melihat hal tersebut, harusnya bisa menjadi lecutan motivasi. Bagaimana tidak, menjadi atlet sekarang ini sudah sangat diperhatikan. Hari tuanya pun diperhatikan. Masa depan atlet kini sangatlah terjamin.

Sayangnya, masih banyak anak-anak yang bercita-cita menjadi atlet, tetapi tidak mendapat dukungan dari orang tua. Orang tua masih beranggapan menjadi atlet itu tidak menjamin kehidupan. Menjadi atlet itu ada batasnya, sehabis itu mau jadi apa.

Mindset-nya harus diubah sekarang. Menjadi atlet sekarang ini merupakan sebuah profesi yang sangat bisa digantungkan untuk keberlanjutan hidup. Kenapa? Ya itu tadi, benar-benar dijamin oleh pemerintah.

Memang benar atlet itu ada batas usianya, istilahnya ‘usia emas’. Tapi, pemerintah tidak tinggal diam. Selepas jadi atlet, mereka akan diberdayakan menjadi pegawai negeri ataupun bekerja di BUMN. Sembari bekerja tak juga harus lepas sepenuhnya dari olahraga yang sudah membesarkan namanya. Disamping menjadi pegawai bisa juga menjadi pelatih. Dengan semua itu sudah pasti kehidupan bisa lebih terjamin.

Jadi, jangan ragu lagi. Apalagi kalau sudah punya bakat, tidak usah khawatir lagi menjadi atlet. Kembangkan terus bakat sehingga bisa berprestasi. Untuk orang tua, biarkan anak-anak mewujudkan cita-citanya. Siapa yang tidak bangga coba, anaknya bisa mengharumkan nama negara. Jadilah para pengahrum nama bangsa. Semangat.

 

Penulis: Andro Satrio SG

LPDP: Lembaga Pengelola Dana Pelesiran

Perlu diingat! Tulisan ini tidak memihak kepada siapapun. Tulisan ini hanya sebatas sumber pengetahuan dan informasi belaka.

 

Cambukan pahit setelah mendapat penghargaan prestise. Susahnya mendapatkan beasiswa dibalas anggapan miring masyarakat. Entah siapa yang benar atau siapa yang salah. Semua bermula dari opini yang terbentuk di atas opini.

Penerima beasiswa dihadapkan kepada 2 kenyataan, benar-benar melanjutkan pendidikan atau berniat pelesiran yang menyelip dalam pendidikan, realitasnya? Hal ini menimbulkan pro kontra yang begitu hangat diperbincangkan. Sampai-sampai fenomena ini dibahas dalam sebuah video bertajuk “Gaduh Beasiswa dari Pajak Rakyat” yang bersumber dari youtube presenter kondang Indonesia, Najwa Shihab. Video tersebut memicu ragam komentar masyarakat, ada yang membela dan tak sedikit pula yang menghujat.

Kisruh ini menyasar ke satu nama, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan. Seperti diketahui LPDP merupakan sebuah badan layanan umum milik pemerintah yang bergerak dalam pengolaan dana pendidikan. Program besuatan pemerintah di bawah Kemenkeu ini dianggap tidak becus dalam mengalirkan dana pendidikan. Di mulai dari proses seleksi beasiswa yang dirasa mengecewakan, terlebih pada assessment online dan proses wawancara. Assessment secara online yang baru diselenggarakan pertama kalinya dinilai belum layak untuk menyeleksi calon penerima beasiswa. Selain itu, adanya kejanggalan dalam proses wawancara yang lebih mengulik privasi tiap individu daripada detail rencana studi ke depan. Selain itu, tuduhan negatif mencuat kepada LPDP yang katanya salah pilih orang lantaran tidak meluluskan peserta seleksi yang telah diterima di kampus peringkat terbaik dunia.

Lebih parahnya lagi, para penerima beasiswa luar negeri katanya terlihat lebih sibuk pelesiran daripada menuntaskan pendidikannya. Bukan tanpa alasan, semua terlihat dari akun media sosial mereka yang kerap mengunggah foto-foto wisata ke berbagai ikon kota di negara mereka belajar. Ini menimbulkan kecemburuan sosial dan ujungnya memicu stigma negatif bahwa mereka yang di sana itu cuma menghambur-hamburkan “duit rakyat”.

Apa ini, entah ajang balas dendam barisan para “sakit hati” yang sengaja menyerang “anak LPDP” dengan membuat “gaduh” melalui kritik pedas yang mereka lontarkan. Kalau sekadar membuat “gaduh” sepertinya kurang masuk agak kurang masuk diakal. Kritik yang terlontar memang benar adanya, berlandaskan fakta dan sejatinya tepat sasaran. Mereka mengkritik melalui berbagai media berdasarkan fakta-fakta yang ada terkait ketidakpuasan penyelesaian pihak LPDP yang ternyata lamban dan tidak memuaskan. Tanpa disadari hal ini bisa membuat konflik semakin meruncing. Bagi yang tidak benar-benar paham dengan mudah dapat terprovokasi.

Masalah ini tak seharusnya dibesar-besarkan. Masyarakat patutnya bangga bukan sebaliknya. Di tengah menggeliatnya rasa ingin belajar manusia Indonesia yang sangat tinggi diakomodasi dengan kebijakan pemerintah yang sangat baik. Ya, pemerintah tidak tinggal diam begitu saja, peran pemerintah sangat nampak nyatanya. Pemerintah memberikan dengan cuma-cuma bantuan dana pendidikan berupa beasiswa. Lebih bangganya lagi, beasiswa yang ditawarkan bukan mencakup lokal saja, tapi hampir ke seluruh penjuru dunia. Artinya pemerintah rela menggelontorkan dana yang luar biasa banyaknya untuk menyekolahkan anak-anak terbaik bangsa ke luar negeri.

 

Mari kembali ke topik utamanya, pertanyaan besarnya dosakah kalau sesekali pelesiran di luar negeri? Harus terlihat seakan-akan sengsarakah menjalani kuliah di luar negeri yang dibiayai?

Kuliah di luar negeri sudah tentu diiringi pressure yang tinggi. Hal ini lumrah terjadi dan memang tak bisa dipungkiri lagi. Mengatasinya bagaimana? Salah satunya dengan pelesiran. Me-refresh otak sejenak dari penatnya kehidupan kampus dirasa sah-sah saja. Pemerintah juga tentunya tidak mau kalau anak-anak terbaiknya sampai-sampai depresi. Kalau mereka-mereka sampai gagal di luar negeri pemerintah sendiri yang merugi.

Memang benar tujuan utama diberangkatkannya mereka adalah untuk belajar. Tapi, setiap pribadi punya seginya sendiri, masalah yang mereka hadapi harus dapat perhatian lebih. Faktor seberapa berhasilnya mereka di sana dipicu dari hal-hal sepele seperti ini. Pihak terkait jangan abai begitu saja, jangan cuma menuntut. Untuk netizen, apakah kalian tidak akan berbuat demikian jika punya kesempatan yang sama? Apalagi kalau pelesirannya menggunakan uang sendiri hasil menyambi disela kesibukannya belajar. Toh sah-sah saja kan? Pelesiran jadi suatu hal yang harus dimaklumi.

Perlu digarisbawahi, pelesiran boleh asal jangan kebablasan. Jangan sampai sibuk pelesirannya lebih banyak daripada sibuk kuliah. Jangan sampai peleserin menjadi pengganggu fokus utama ada di sana, yaitu belajar. Malu nantinya kalau tidak bisa lulus sesuai tenggat waktu yang ditentukan. Pada dasarnya penerima beasiswa dipersiapkan untuk mengabdi. Kalau sampai berlama-lama di sana lantas kapan pengabdiannya terealisasikan.

Bijak jadi kunci utama. Sepintar mungkin para penerima beasiswa harus mengatur waktunya disana. Ya, seperti kita ketahui penerima beasiswa seorang manusia juga. Butuh refresh, keluar dari semua yang memenatkan diri. Meskipun beban dalam tanggungan, jangan juga terlalu ngoyo. Dua tiga kali boleh lah untuk pelesiran, selain berguna untuk membuyarkan penat dapat juga dijadikan sebagai media mencari inspirasi. Hanya saja kembali ke itu tadi, bijak. Kecanggihan teknologi sekarang ini harus benar-benar dicermati. Jangan asal sembarang mengumbar aktivitas pribadi di ruang publik macam media sosial sekarang ini. Salah sedikit saja jadi blunder dan itulah makanan orang yang tidak bertanggungjawab. Cermat bermedia sosial bisa mengeliminir anggapan miring bahwa penerima beasiswa LPDP itu bukan cuma pelesiran semata. Dengan demikian juga bisa membantu membentuk citra positif dari LPDP itu sendiri.

Satu lagi, jika sudah siap menerima beasiswa berarti harus sudah siap juga menerima hak untuk mengelola diri selama menjadi penerima beasiswa (uang, waktu, akademik maupun non-akademik). Hal lainnya, apapun pilihan yang diambil harus siap benar-benar dipertanggungjawabkan. Matangkan rencana bagaimana bentuk kontribusi kepada negara selepas pulang sembari mengembangkan mental dan kemampuan diri sebelum benar-benar terjun mengabdi.

 

Penulis: Andro Satrio SG

Apa Enaknya Dapat Beasiswa?

Hello scholarship hunter! Sudah seberapa jauhkah persiapanmu hari ini untuk mengikuti program beasiswa khususnya beasiswa untuk sekolah di dalam bahkan luar negeri? Jika kamu masih saja berleha-leha maka mulailah untuk mengejar targetmu tahun ini siapa tahu kamu bisa menjebol beasiswa untuk belajar di universitas impianmu dan mendapat gelar yang kamu inginkan. Namun, jika usahamu kali ini gagal janganlah mencoba untuk berputus asa karena masih banyak kesempatan yang bisa kamu dapatkan, do you agree?

WHY?

Mungkin kamu sudah terjerumus oleh godaan beasiswa yang seperti teman-temanmu bilang orang yang mendapat beasiswa itu berbeda dan spesial, beasiswa bisa memudahkanmu mendapat pekerjaan di perusahaan impianmu. But, the reality doesn’t say that. Ketika kamu ingin mengajukan beasiswa dalam atau luar negeri kamu sebaiknya ketahui dulu kepahitan dari memperoleh beasiswa tersebut, mungkin kamu bisa melakukan riset yang berbalik dengan yang biasa orang-orang lakukan.

Lost your direction easily. Karena saking sulitnya proses seleksi beasiswa, tidak sedikit orang yang akan langsung kehilangan arah karena gagal dalam proses seleksi beasiswa, harapan mereka pudar dan stuck in a half way seolah-olah tak ada yang bisa mereka lakukan karena semua usaha telah dipertaruhkan demi mendapat beasiswa, maka dari itu selalu bersiap-siaplah untuk kemungkinan terburuk terlebih dahulu sebelum kamu berharap lebih terhadap hasil.

Push you forcefully. Ketika kamu berhasil lolos seleksi beasiswa kamu akan mengibarkan bendera merahmu yang menandakan keberhasilanmu, namun ketika kamu telah menjalani pendidikan yang kamu dapat dari beasiswa, lalu kamu mengalami titik jenuh dimana kamu harus rela berkorban mati-matian untuk menjunjung nama kota atau negaramu, bisa jadi kamu akan merasa semuanya tidak sesuai dengan rencana dan targetmu. Alasan kamu ingin mendaftar program beasiswa khususnya dalam bidang pendidikan kamu pastinya sudah mempersiapkan target-target yang ingin kamu capai untuk kepuasan dirimu sendiri, namun kenyataannya berbalik dengan apa yang kamu prediksikan. Ketika kamu hidup dengan mengandalkan beasiswa dari pemerintah/swasta secara sadar kamupun ditunjuk sebagai kandidat yang harus mengabdi untuk kota atau negaramu dimana kamu tinggal tapi ditengah-tengah perjalanan, kamu hilang dan patah semangat karena merasa tidak mampu melakukannya, then…all have been useless. The question is “Are you ready?”

Drag you to be a victim. Kamu mungkin sudah tidak asing dengan modus penipuan yang mengatas namakan beasiswa dan bisa jadi kamu sempat menjadi salah satu korban penipuan tersebut. How was your feeling? Kesal dan menyebalkan bukan?! Untuk itulah kamu perlu menggali informasi sebanyak-banyaknya mengenai jenis beasiswa seperti apa yang mengandung modus penipuan, dan jika kamu ingin mendaftar beasiswa sebaiknya langsung datang ke kementerian pendidikan atau mengunjungi situs resmi dan akurat pemerintah maupun swasta yang menyediakan program beasiswa jika kamu ingin mencari lewat inernet. Jangan sampai kamu menjadi korban penipuan selanjutnya.

Biasanya ciri-ciri modus penipuan beasiswa adalah menghubungi lewat telepon tapi tidak mencantumkan nomor telepon di website maupun media lainnya, adanya klaim sponsorship dengan mengatas namakan sponsor-sponsor besar seperti Better Business Berau, perusahaan mereka masih baru dibangun, meminta informasi pribadi secara detail, menyamar sebagai organisasi nirlaba, menawarkan jaminan untuk menang, dan berbagai tindakan mencurigakan lainnya.

However, be smarter to choose the best one and careful to all easy possibilities.

Author: Tita Sr.

Teliti Sebelum Memilih, Kenali Beberapa Macam Beasiswa Perguruan Tinggi yang Mungkin Belum Kamu Ketahui

Sebelum memutuskan untuk mendaftar sebuah beasiswa ada baiknya kalian mengetahui dulu macam-macam beasiswa yang ada supaya bisa cermat memilih dan memilahnya. Hal tersebut guna mengetahui istilah-istilah dalam beasiswa agar tidak salah kaprah nantinya. Jangan cuma gara-gara dengar kata beasiswa buru-buru deh langsung di ambil, tau-taunya bukan sesuai harapan, nyesel deh.

Beasiswa yang ada sekarang ini baik dalam maupun luar negeri ragam bentuknya. Beasiswa juga banyak kategorinya. Secara garis besar beasiswa dikelompokan menjadi 3 bagian, antara lain berdasarkan jenisnya, pendanaannya, dan pihak penyedia. Jangan gagal paham ya! Mengutip dari berbagai sumber, ada info untuk kalian yang sedang mencari beasiswa. Yuk simak penjelasan tentang macam-macam beasiswa di bawah ini supaya jangan salah kaprah dan jadi tambahan pengetahuan juga. Sudah siap? Ayo Lets go.

 

 

  • Berdasarkan Jenisnya

Beasiswa berdasarkan jenis di bagi menjadi 3 kategori, yaitu:

 

Beasiswa Penghargaan

Beasiswa model ini diberikan kepada mahasiswa yang mempunyai prestasi khusnya di bidang akademik. Dengan kata lain sebagai bentuk apresiasi. Beasiswa ini diberikan berdasarkan perolehan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) kalian semasa kuliah, biasanya 3.5 ke atas. Karena patokannya IPK, tentu beasiswa ini menyasar para mahasiswa. Contohnya, Besiswa Prestasi Akademik. Bagi kalian para mahasiswa tentu sudah familiarkan?

Tapi jangan takut, untuk kalian yang berprestasi juga di bidang akademik tapi masih duduk di bangku sekolah juga ada. Pihak universitas memberikan kemudahan bagi-kalian kalian untuk masuk ke perguruan tinggi lewat seleksi jalur beasiswa prestasi.

Beasiswa Bantuan

Namanya saja sudah bantuan. Beasiswa ini difokuskan bagi mahasiswa yang secara akademik memiliki nilai yang baik tetapi kekurangan dalam segi finansial. Bidikmisi, Supersemar, dan Beasiswa Bantuan Belajar di antaranya. Ada tinjauan lebih lanjut dari si pemberi beasiswa kepad kalian yang terpilih nantinya di beasiswa ini, semisal pendapatan orang tua, biaya, dan pengeluaran hidup.

Beasiswa Non Akademik

Beasiswa ini untuk kalian yang punya prestasi di luar bidang akademik. Biasanya yang paling sering itu bidang olahraga, tapi tidak menutup kemungkinan pada bidang-bidang lainnya. Banyak kampus yang melirik orang-orang berprestasi non akademik ini bahkan jauh-jauh hari sebelum lulus sekolah menengah atasnya karena prestasinya yang mengkilat. Contohnya, Lalu Muhammad Zohri sedang hangat-hangatnya nih. Ia ditawari salah satu kampus swasta untuk berkuliah di sana dan mereka menjamin akan memberikan beasiswa kepadanya.

Besiswa Ikatan Dinas

Beasiswa ikatan dinas biasanya sifatnya bersyarat. Mengapa? Karena yang menerima beasisiwa ini nantinya akan langsung ditarik seketika selesai kuliah ke perusahaan atau institusi mereka untuk menjadi bagian dari perusahaan atau institusi tersebut dalam jangka waktu tertentu. Biasanya sebelum pemberian beasiswa akan ada beberapa ketentuan yang harus ditandatangani yang sifatnya mengikat. Ada sisi positif maupun negatifnya mengenai beasiswa ini. Positifnya kalian tak perlu repot-repot lagi mencari pekerjaan karena langsung dipekerjakan di sana. Sisi negatifnya, karir kalian mungkin saja akan terkungkung di situ-situ saja. Tidak ada perkembangan dan peningkatan.

 

 

  • Berdasarkan Pendanaan

 

Terdapat 2 bagian dari jenis ini, antara lain:

 

Beasiswa Sebagian

Istilah Kerennya partial scholarship. Beasiswa ini hanya mencakup sebagian dari seluruh biaya yang harus terpenuhi. Misal, hanya uang gedungnya saja atau uang semesternya saja. Kebanyakan universitas dalam negeri yang mengadakan beasiswa ini. Jika kalian ditawari beasiswa seperti ini kalian harus benar-benar teliti terlebih dahulu, jangan sampai keliru.

Beasiswa Penuh

Beasiswa penuh atau full scholarship memberikan tanggungan penuh kepada penerimanya. Tidak tangung tanggung, beasiswa ini meliputi biaya kuliah, akomodasi, biaya hidup, biaya penelitian, buku-buku, transportasi, bahkan asuransi. Kampus-kampus di luar negeri biasanya memberikan beasiswa seperti ini dan tak terbatas pada asal negara si penerimanya berasal. Tenang, di Indonesia juga ada kok, coba cari-cari ya.

 

 

  • Berdasarkan Penyedianya

 

Berdasarkan penyedianya, beasiswa dapat dibagi menjadi 5 kategori, yaitu:

 

Beasiswa Pemerintah

Beasiswa ini didawarakan pemerintah kepada seluruh masyarakat Indonesia. Biasanya, lembaga-lembaga terkait yang menjadi garda terdepan adanya beasiswa ini, misal Kemdikbud. Beasiswa ini tidak terbatas pada satu lembaga atau institusi saja.

Beasiswa Pihak Swasta

Beasiswa ini biasanya berasal dari perusahan-perusahan sebagai bentuk CSR-nya kepada masyarakat. Perusahaan ini juga bekerjasama dengan beberapa universitas terkait dalam hal pendidikan. Diantaranya, Beasiswa Djarum, Beasiswa BCA Finance, dan Beasiswa Tanoto Foundation.

Beasiswa dari Negara Maju dan Donor

Apa sih beasiswa dari negara maju dan donor itu? Beasiswa dari negara maju dan donor itu secara singkatnya merupakan jalinan kerjasama antara pemerintah dengan negara si pemberi beasiswa. Tentunya negara yaitu negara-negara yang sudah maju dalam hal pendidikan. Beberapa diantaranya:

– Beasiswa Nuffic Neso (NEC) dari pemerintah Belanda

– Beasiswa Monbukagakusho dari pemerintah Jepang

– Beasiswa Chevening dari pemerintah Inggris yang dikelola oleh British Council

– Beasiswa Fullbright dari pemerintah AS yang dikelola oleh Aminef

Beasiswa dari Komunitas, Yayasan, atau Organisasi

Beasiswa ini diakomodasi oleh pihak seperti komunitas, yayasan, dan organisasi dengan berbagai latar belakang baik itu keagamaan, sosial, maupun akademik. Di Indonesia sendiri ada yang namanya The Habibie Center, besutan salah satu anak bangsa yang mendunia, B.J. Habibie.

Itu tadi macam-macam beasiswa dan penjelasannya masing-masing. Bagaimana, sekarang sudah paham belum apa-apa saja tentang beasiswa yang ada? Kalau berminat, mulai sekarang cari info-info beasiswa yang dirasa paling cocok untuk kalian. Intinya, manfaatkanlah segala beasiswa yang ada untuk kelancaran pendidikan kalian. Semoga beruntung.

 

Penulis: Andro Satrio SG

Ingin Kuliah di Belanda, Beasiswa Pula? Gak Usah Repot  Cari Sana-Sini, Situs Satu ini Siap Memberi Solusi

Punya rencana lanjut kuliah? kepinginnya di luar negeri? Terus maunya di negara mana? Amerika, Kanada, Belgia, Jerman, atau mungkin Belanda? Tapi maunya yang beasiswa, ada, bisa? Bisalah. Apa si yang gak bisa hari gini. Dunia teknologi informasi sekarang ini melaju pesat sekali. Barang tentu informasi mudah sekali kita bisa jumpai. Beragam hal bisa kita cari, salah satunya mengenai beasiswa. Info tentang beasiswa khususnya kuliah di luar negeri sangat banyak sekali dan tentu mudah sekali di cari. Kuliah di luar negeri bukan sekadar isapan jempol lagi.

Selanjutnya, bagi kalian yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri harus benar-benar cerdik memilih negara tempat kuliah. Hal itu bukanlah sembarang perkara, butuh perhitungan. Salah-salah nanti malah bisa tidak srek di hati. Sedikit info saja, Belanda merupakan salah satu tujuan untuk berkuliah yang baik lho. Pertama, faktor kedekatan antara Belanda dan Indonesia, jadi kalian bakalan aman kuliah di sana. Kedua, banyak orang Indonesia di sana. Banyak orang Indonesia menetap di sana entah itu bekerja maupun bersekolah lantaran kedua negara ini memiliki nilai historis yang cukup panjang dahulunya, selain itu banyak juga orang-orang keturunan Indonesia berasal dari sana. Jadi, Belanda sudah sangat familiar dengan Indonesia. Ketiga, yaitu sistem pendidikannya, sistem pendidikan tinggi di Belanda begitu lekat dengan industri. Sasarannya supaya lebih mendekatkan pelajar dengan dunia kerja. Selain itu, giatnya kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Belanda dalam hal pendidikan. Hal itu ditandai dengan banyaknya beasiswa dari pemerintah Belanda yang di sediakan untuk warga negara Indonesia.

Jika kalian benar-benar niat kuliah khusunya di Belanda, ada beberapa hal yang kalian perlu lakukan. Pertama itu mencari informasi. Jalur apa saja yang dibuka dan kampus mana saja yang sedang memberi beasiswa, kalian harus tahu. Setelah itu barulah daftar dan penuhi syarat-syaratnya. Jangan lupa juga tanggal deadline-nya. Jika nanti diterima, selamat deh kalian jadi salah satu mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Belanda.

Lebih khusus nih bagi kalian yang sedang mencari-cari nih informasi kuliah beasiswa di Belanda tapi masih bingung, kalian wajib coba salah satu situs ini, namanya Nuffic. Nuffic merupakan sebuah nirlaba kerjasama internasional dalam hal pendidikan. Mitra kontraknya yaitu dengan Kementrian Pendidikan, Budaya, & Sains Belanda, serta Kementrian Luar Negeri Belanda. Berkedudukan di Belanda, organisasi ini memiliki peran kerjasama internasional dalam hal pendidikan antara Belanda dan negara lainnya. Kalian bisa cek website-nya di https://www.nuffic.nl/.

Nuffic juga telah melebarkan sayapnya dengan mempunyai 11 kantor perwakilan di 11 negara dan Indonesia adalah salah satunya. Nuffic di Indonesia sendiri bernama Nuffic Neso Indonesia. Nuffic Neso Indonesia menyediakan informasi yang luas mengenai kuliah dan beasiswa di Belanda. Selain itu, Nuffic Neso Indonesia juga memberikan konsultasi secara cuma-cuma mengenai perkuliahan di Belanda tentunya dalam bahasa Inggris. Nuffic Neso Indonesia juga memelopori dan memfasilitasi kerja sama di bidang pendidikan tinggi antara institusi di Indonesia dengan Belanda. Selain itu mereka juga menawarkan, mewakili pemerintah Belanda, dan menyediakan beasiswa untuk warga negara Indonesia setiap tahunnya. Untuk info lebih lanjut kalian bisa kunjungi http://www.nesoindonesia.or.id/

Bagaimana, berminat atau masih ragu? Untuk lebih meyakinkan lagi silakan simak salah satu testimoni orang Indonesia yang berhasil kuliah di Belanda.

(Testimoni ini diambil dari www.nesoindonesia.or.id)

 

Siapa Mau Kuliah di Belanda?

“Jangan khawatir kuliah ke Belanda. Banyak hal bisa kita raih di luar zona nyaman kita, yang akan membentuk personal development kita menjadi lebih baik dan berkualitas.” Bramandita Resa, Alumni IHS – Erasmus University Rotterdam

Hallo semua, perkenalkan nama saya Bramandita Resa Kurnia Dewi. Saya adalah alumnus Institute for Housing and Urban Development Studies (IHS), Erasmus University Rotterdam, jurusan Urban Management and Development, tahun 2013-2014 dengan beasiswa Netherlands Fellowship Programme (NFP).

Why Netherlands?

Bagi sebagian besar orang jawabannya beragam, dari keindahan arsitektur kota Negeri Kincir Angin, kemudahan menggunakan Bahasa Inggris di sana, hingga beragamnya program studi dan universitas yang berkualitas, serta kenyamanan Belanda yang sudah seperti home away from home bagi orang Indonesia kerap menjadi daya tarik utama.

Pertanyaan ini juga sering ditanyakan pada saya. Bagi saya, secara personal, kuliah di Belanda bagaikan a dream comes true!! Kuliah di Belanda sudah menjadi mimpi saya sejak kecil, sejak pertama kali guru SD saya waktu itu menceritakan tentang Belanda: bahwa Belanda itu sebagian besar wilayahnya berada di bawah permukaan air laut, tapi bisa mengelola wilayahnya dengan baik. Bagaimana bisa ya? Bagaimana perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruangnya?

Berasal dari Cilacap, kota kecil yang memang berbatasan langsung dengan laut, sejak saat itu saya ingin sekali belajar tentang Urban and Regional Planning, dengan spesialisasi Integrated Water Resources Management, langsung dari negara yang memang bisa dianggap paling berhasil dalam hal tersebut. Selain itu, Belanda juga memahami konteks dan kondisi di Indonesia dengan baik mengingat adanya keterikatan sejarah antara Belanda dan Indonesia.

Bagi saya, kuliah di Belanda bukan hanya memberi saya bekal knowledge atau ilmu pengetahuan yang memang ingin saya dalami sejak kecil, tapi juga personal development, yang didapat dari konektivitas kita dengan orang-orang dari seluruh penjuru dunia, yang sangat open minded.

So, the answer is: why not?

Bagaimana kuliah di sana?

Soal kualitas, tidak perlu diragukan lagi bahwa universitas di Belanda merupakan jajaran universitas terbaik dunia. Selain itu, hampir setiap orang di Belanda fasih dan bersedia berbahasa Inggris. Di lingkungan pendidikan, semua jenjang pendidikan master dan doktoral yang menawarkan program internasional dilakukan dengan Bahasa Inggris. Jadi, tidak perlu khawatir harus belajar Bahasa Belanda dulu.

Dosen di Belanda juga sangat responsif dalam menjawab pertanyaan mahasiswa, juga sangat terbuka terhadap ide dan gagasan baru. Jadi, kita bisa leluasa berdiskusi dengan mereka. Fasilitas perpustakaannya pun sangat lengkap, dan didukung dengan akses jurnal ilmiah internasional yang luas dan sangat lengkap.

Lalu Beasiswanya?

Siapa bilang cari beasiswa susah? Dengan keseriusan dan ketekunan, siapa saja bisa mendapat beasiswa ke Belanda. Beasiswa yang ditawarkan sangat banyak, misalnya: StuNed, NFP, LPDP, dan masih banyak lagi beasiswa yang ditawarkan oleh universitas.

Cara mendaftarnya pun melalui sistem online, dari mendaftar universitas hingga mendaftar beasiswa. Kuncinya, luangkan waktu untuk mempersiapkan segala persyaratan untuk beasiswa, agar lengkap, menarik, meyakinkan, dan realistis. Selain itu, rajin cari informasi, salah satunya, dari Nuffic Neso Indonesia dan Study in Holland Ambassador.

Salah satu kuncinya adalah pahami target group dari beasiswa tersebut, yakinkan apakah kita memang memenuhi syarat. Lalu, pahami kapan deadline beasiswa tersebut, lalu buat time schedule, karena proses untuk melengkapi persyaratan beasiswa itu butuh waktu. Misalnya, untuk tes TOEFL IBT, kita baru bisa tes setelah sekitar 2 minggu setelah mendaftar, dan hasilnya baru diterima sekitar 1 bulan kemudian. Selain itu, mencari reference letter juga mungkin butuh waktu lama, tergantung pemberi referensi. Menulis motivation letter dan application form yang lengkap dan berkualitas juga membutuhkan pemikiran dan waktu. Dan akhirnya, proses seleksi dari universitas sendiri juga membutuhkan waktu sekitar 6 minggu. Jadi, time schedule sangat penting.

Jangan takut kuliah di Belanda karena jauh dari orang tua dan kekhawatiran lainnya. Banyak hal bisa kita raih di luar zona nyaman kita, yang akan membentuk personal development kita menjadi lebih baik dan berkualitas. Pada akhirnya, mungkin bukan yang paling pintar yang bisa dapat beasiswa, tapi yang paling matang dan lengkap persiapannya. So, lets start!

Gimana dengan kalian, ada yang berminat?

 

Penulis: Andro Satrio SG

Yakin Mau Kuliah di Luar Negeri, Merasa Pantas? Sudah Tahu Sisi Lainnya? Awas Nanti Menyesal!

Bicara kuliah apalagi ke luar negeri dengan mudah bisa kita cari. Terus, banyak juga pihak-pihak yang bisa memberikan beasiswa. Entah itu dari pihak perusahaan swasta sebagai bentuk CSR-nya kepada masyarakat dengan memberangkatkan anak-anak Indonesia untuk sekolah di luar negeri. Atau, pihak universitas di luarnya langsung yang membuka kesempatan bagi seluruh masyarakat di dunia untuk ikut serta dalam program beasiswa yang mereka adakan.

Selain itu, ada pula program yang digagas pemerintah, salah satunya yaitu program LPDP. LPDP sendiri merupakan singkatan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan. Lembaga ini berada di bawah 3 Kementrian langsung, yaitu Kemenkeu, Kemendikbud, dan Kemenag. LPDP mempunyai program yang di mana memberikan bantuan beasiswa kepada seluruh rakyat Indonesia untuk melanjutkan jenjang Magister dan Dokotralnya dalam maupun luar negeri. Tujuannya supaya SDM Indonesia berpendidikan dan berkualitas, serta berdampak dan berkontribusi bagi negara ke depan.

Bagi kalian para pemburu beasiswa ini mungkin sudah pahamlah bagaimana proses pendaftaran beasiswa itu seperti apa, terus bagaimana metode seleksinya, dan bagaimana sampai dinyatakan lolos dan bisa mendapatkan beasiswa. Itu sudah makanan sehari-hari kalian mungkin ya, tidak perlu dibahas lagi sepertinya. Pastinya satu perlu digaris bawahi, dapat besiswa itu susah, sudah itu saja.

Untuk bahasan kali ini yaitu mengenai bagaimana sisi lain kuliah setelah mendapatkan beasiswanya. Khususnya bagi kalian yang sudah membulatkan tekat “Pokoknya harus gimanapun caranya,mending dipikir-pikir dulu deh. Mending urungkan niat kalian dari sekarang dari pada menyesal kemudian, nanti bisa berabe lagi.

Bicara kuliah siapa yang tidak mau coba, terlebih dibiayain, di luar negeri pula, berasa paling beruntung di dunia agaknya. Bisa studi di luar dengan orang-orang dari negara lain, punya teman baru, bukan orang Indonesia melulu, keren memang. Terus, pas sudah lulus dan pulang kembali ke Indonesia rasanya bak pahlawan yang habis pulang dari medan perang. Apa nyatanya seperti itu? Jika dari kalian ada yang berpikiran seperti itu kalian salah besar.

Kuliah di luar negeri itu tidak segampang apa yang kalian mungkin bayangkan. Kuliah di luar negeri harus punya kesiapan yang benar-benar matang dan terlebih mandiri. Ya mandiri lah, karena nantinya apa-apa harus kalian lakukan sendiri. Bagi yang “anak mama,” yaudah deh bye-bye jangan harap, baru satu minggu di sana sudah minta pulang lagi.

Bukan maksud untuk menakut-nakuti ya, tapi memang kenyataannya demikian. Kalian dituntut punya strategi lebih dulu, jangan sampai nanti menyerah sebelum berperang. Kalau kalian kuat sih ya bagus, nilai lebih untuk kalian, tapi apakah semua bisa seperti itu.

 

Kalian Orang Indonesia

Pertama, kalian-kalian ini kan adalah orang Indonesia, orang yang lahir dan besar di Indonesia. Indonesia sendiri menganut budaya ketimuran. Nah, jika kalian nanti berniat ingin kuliah di luar semisal Eropa atau Amerika hal yang pertama kalian harus taklukan adalah culture shock. Sebab, budaya mereka berbeda dengan budaya yang kita punya. Mereka menganut budaya barat, budaya yang boleh dibilang bebas. Otomatis kita harus menyesuaikan dan memahami budaya-budaya mereka karena nantinya kita cukup lama tingal di sana. Tidak mudah lho menyesuaikan budaya mereka seperti membalikkan telapak tangan. Jangan sampai malahan kalian yang bisa merasa depresi, homesick, bahkan minta pulang karena saking tidak tahannya. Makanan di sana pun berbeda. Apa lidah Indonesia kalian sudah dilatih untuk mengecap makanan-makanan ala-ala barat? Terlebih, sedikit sulit untuk mencari makanan yang halal di sana. Jadi, kalian harus perhatikan itu.

 

Anggapan Miring

Kedua, anggapan miring ketika kalian sedang belajar di luar negeri. Kenyataannya seperti itu, niat mulia kita mungkin saja bisa disalah artikan oleh sebagian orang. Mereka menganggap kalian kuliah di sana cuma untuk senang-senang, hura-hura, cuma ingin bisa keluar negerinya saja. Omongan seperti itu bukan saja berasal dari lingkungan di mana kita biasa berada, bahkan kerabat terdekat kita sendiri pun bisa saja beranggapan demikian. Sebab, pikir mereka luar negeri itu identik dengan jalan-jalan, senang-senang. Lagi pula tidak ada yang tahu juga aktivitas kalian di sana seperti apa, bisa sebebas-besanya saja mereka melontarkan persepsinya.

 

Lupa Teman Lama

Ketiga, mulai melupakan teman di negaramu sendiri. Pastinya di sana kalian akan mempunyai teman baru lebih hebatnya lagi beragam dari pelbagai negara. Sehingga, jaringan yang kalian punya akan bertambah luas. Selain itu, nantinya kalian akan lebih sibuk dengan teman-teman baru karena akan beraktivitas di satu ruang lingkup yang sama dan dalam waktu yang lama pula. Lantas bagaimana kawan-kawan kalian di kampung halaman? Mungkin dengan canggihnya teknologi sekarang ini bisa saja sedikit teratasi. Kalian bisa tetap berkomunikasi meskipun berbeda jarak, tidak ada penghambatnya. Hanya saja, kualitas face-to-face secara langsung itu sangat penting. Jangan sampai sepulangnya kalian nanti malah bisa mengurangi esensi kualitas pertemanan kalian dengan teman ataupun sahabat. Sesampainya nanti malah melupakan teman-teman kalian yang ada di Indonesia karena merasa kalian sudah go International.

 

Kehidupan Bebas

Keempat, terbawa kehidupan bebas di sana. Seperti sudah dijelaskan tadi bahwa budaya mereka adalah budaya yang bebas. Obat-obatan, minum-minuman, bahkan seks pun tidak awam di sana. Apakah kalian sudah siap dengan hal tersebut? Apakah yakin tidak akan terjerumus? Ya berdoa saja semoga jangan sampai yang demikian terjadi pada diri kalian. Kalian ini belajar di sana untuk mengharumkan nama bangsa bukan malah sebaliknya. Harus benar-benar diniatkan bahwa tujuan kalian di sana hanya sebatas menuntut ilmu, tidak lebih. Ambil yang positif-positifnya saja dari budaya mereka.

 

Hidup Sendiri

Kelima, hidup sendiri. Siapa bilang hidup sendiri itu enak. Mungkin satu waktu kita pernah berbica kepada orang tua kita, “Aku itu udah besar, aku pengen bebas, aku pengen bisa sendiri.” Jika benar-benar diperhadapkan dengan situasi seperti itu apakah kalian benar-benar siap? Jauh dari, orang tua, tidak ada kenalan ataupun sanak saudara di sana, apa-apa mesti dilakukan sendiri. Yakin? Percayalah kenyataan itu lebih sulit dari apa yang kita bayangkan.

 

Ingat Kalian Orang Asing

Keenam, ingat kalian itu orang asing. Tidak sembarang orang bisa mereka terima di sana. Apalagi kita ini yaitu negara dengan mayoritas muslim. Tanpa menyinggung agama apapun ya, tapi pasti gerak-gerik kalian benar-benar sangat diawasi di sana. Apa enak hidup seperti itu? Pikir-pikir dahulu lah.

 

Reverse Culture Shock

Ketujuh, reverse-culture shock. Setelah beberapa tahun di sana tentunya kalian sudah terbiasa dengan budaya di sana. Namun, seketika pulang kembali ke tanah air budaya dari sana pasti akan terbawa dalam diri kalian. Kalian harus kembali menyesuaikan diri dengan budaya negeri sendiri. Agak sedikit aneh memang, tapi begitulah kenyataannya. Melelahkan bukan?

 

Ijazah

Terakhir, penyetaraan ijazah. Nah ini nih paling penting. Kalian itu kan kuliah di luar negeri, tentunya kurikulumnya berbeda dengan di Indonesia. Untuk itu, harus dilakukan penyetaraan. Tidak langsung gelar yang kalian dapat dari sana bisa dipergunakan di Indonesia, butuh proses untuk menyesuaikannya. Selama belum dilakukan penyetaraan, gelar asing yang kalian dapat masih dikatakan belum berlaku. Ingat, proses penyetaraan ijazah itu panjang dan merepotkan lho. Dilain kasus, ada gelar dari sana yang tidak sesuai dengan kurikulum pendidikan di Indonesia. Alhasil, sia-sialah pengorbanannya. Kuliah lama-lama, jauh-jauh tapi tidak diakui. Bagaimana rasanya? Mungkin bisa saja dipakai di negara asalnya, akan tetapi apakah semudah itu bisa mendapatkan pekerjaan di negeri orang? Pikir sendiri.

 

Jadi bagaimana, tetap mau lanjut cari kuliah ke luar negeri atau malah takut. Ingin lanjut di Indonesia saja? Bebas, itu terserah kalian, tergantung bagaimana kalian menentukan sikap. Intinya harus punya tekat yang benar-benar kuat dan benar-benar bisa mempertanggungjawabkannya. Sekian.

 

Penulis: Andro Satrio SG