Bicara kuliah apalagi ke luar negeri dengan mudah bisa kita cari. Terus, banyak juga pihak-pihak yang bisa memberikan beasiswa. Entah itu dari pihak perusahaan swasta sebagai bentuk CSR-nya kepada masyarakat dengan memberangkatkan anak-anak Indonesia untuk sekolah di luar negeri. Atau, pihak universitas di luarnya langsung yang membuka kesempatan bagi seluruh masyarakat di dunia untuk ikut serta dalam program beasiswa yang mereka adakan.

Selain itu, ada pula program yang digagas pemerintah, salah satunya yaitu program LPDP. LPDP sendiri merupakan singkatan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan. Lembaga ini berada di bawah 3 Kementrian langsung, yaitu Kemenkeu, Kemendikbud, dan Kemenag. LPDP mempunyai program yang di mana memberikan bantuan beasiswa kepada seluruh rakyat Indonesia untuk melanjutkan jenjang Magister dan Dokotralnya dalam maupun luar negeri. Tujuannya supaya SDM Indonesia berpendidikan dan berkualitas, serta berdampak dan berkontribusi bagi negara ke depan.

Bagi kalian para pemburu beasiswa ini mungkin sudah pahamlah bagaimana proses pendaftaran beasiswa itu seperti apa, terus bagaimana metode seleksinya, dan bagaimana sampai dinyatakan lolos dan bisa mendapatkan beasiswa. Itu sudah makanan sehari-hari kalian mungkin ya, tidak perlu dibahas lagi sepertinya. Pastinya satu perlu digaris bawahi, dapat besiswa itu susah, sudah itu saja.

Untuk bahasan kali ini yaitu mengenai bagaimana sisi lain kuliah setelah mendapatkan beasiswanya. Khususnya bagi kalian yang sudah membulatkan tekat “Pokoknya harus gimanapun caranya,mending dipikir-pikir dulu deh. Mending urungkan niat kalian dari sekarang dari pada menyesal kemudian, nanti bisa berabe lagi.

Bicara kuliah siapa yang tidak mau coba, terlebih dibiayain, di luar negeri pula, berasa paling beruntung di dunia agaknya. Bisa studi di luar dengan orang-orang dari negara lain, punya teman baru, bukan orang Indonesia melulu, keren memang. Terus, pas sudah lulus dan pulang kembali ke Indonesia rasanya bak pahlawan yang habis pulang dari medan perang. Apa nyatanya seperti itu? Jika dari kalian ada yang berpikiran seperti itu kalian salah besar.

Kuliah di luar negeri itu tidak segampang apa yang kalian mungkin bayangkan. Kuliah di luar negeri harus punya kesiapan yang benar-benar matang dan terlebih mandiri. Ya mandiri lah, karena nantinya apa-apa harus kalian lakukan sendiri. Bagi yang “anak mama,” yaudah deh bye-bye jangan harap, baru satu minggu di sana sudah minta pulang lagi.

Bukan maksud untuk menakut-nakuti ya, tapi memang kenyataannya demikian. Kalian dituntut punya strategi lebih dulu, jangan sampai nanti menyerah sebelum berperang. Kalau kalian kuat sih ya bagus, nilai lebih untuk kalian, tapi apakah semua bisa seperti itu.

 

Kalian Orang Indonesia

Pertama, kalian-kalian ini kan adalah orang Indonesia, orang yang lahir dan besar di Indonesia. Indonesia sendiri menganut budaya ketimuran. Nah, jika kalian nanti berniat ingin kuliah di luar semisal Eropa atau Amerika hal yang pertama kalian harus taklukan adalah culture shock. Sebab, budaya mereka berbeda dengan budaya yang kita punya. Mereka menganut budaya barat, budaya yang boleh dibilang bebas. Otomatis kita harus menyesuaikan dan memahami budaya-budaya mereka karena nantinya kita cukup lama tingal di sana. Tidak mudah lho menyesuaikan budaya mereka seperti membalikkan telapak tangan. Jangan sampai malahan kalian yang bisa merasa depresi, homesick, bahkan minta pulang karena saking tidak tahannya. Makanan di sana pun berbeda. Apa lidah Indonesia kalian sudah dilatih untuk mengecap makanan-makanan ala-ala barat? Terlebih, sedikit sulit untuk mencari makanan yang halal di sana. Jadi, kalian harus perhatikan itu.

 

Anggapan Miring

Kedua, anggapan miring ketika kalian sedang belajar di luar negeri. Kenyataannya seperti itu, niat mulia kita mungkin saja bisa disalah artikan oleh sebagian orang. Mereka menganggap kalian kuliah di sana cuma untuk senang-senang, hura-hura, cuma ingin bisa keluar negerinya saja. Omongan seperti itu bukan saja berasal dari lingkungan di mana kita biasa berada, bahkan kerabat terdekat kita sendiri pun bisa saja beranggapan demikian. Sebab, pikir mereka luar negeri itu identik dengan jalan-jalan, senang-senang. Lagi pula tidak ada yang tahu juga aktivitas kalian di sana seperti apa, bisa sebebas-besanya saja mereka melontarkan persepsinya.

 

Lupa Teman Lama

Ketiga, mulai melupakan teman di negaramu sendiri. Pastinya di sana kalian akan mempunyai teman baru lebih hebatnya lagi beragam dari pelbagai negara. Sehingga, jaringan yang kalian punya akan bertambah luas. Selain itu, nantinya kalian akan lebih sibuk dengan teman-teman baru karena akan beraktivitas di satu ruang lingkup yang sama dan dalam waktu yang lama pula. Lantas bagaimana kawan-kawan kalian di kampung halaman? Mungkin dengan canggihnya teknologi sekarang ini bisa saja sedikit teratasi. Kalian bisa tetap berkomunikasi meskipun berbeda jarak, tidak ada penghambatnya. Hanya saja, kualitas face-to-face secara langsung itu sangat penting. Jangan sampai sepulangnya kalian nanti malah bisa mengurangi esensi kualitas pertemanan kalian dengan teman ataupun sahabat. Sesampainya nanti malah melupakan teman-teman kalian yang ada di Indonesia karena merasa kalian sudah go International.

 

Kehidupan Bebas

Keempat, terbawa kehidupan bebas di sana. Seperti sudah dijelaskan tadi bahwa budaya mereka adalah budaya yang bebas. Obat-obatan, minum-minuman, bahkan seks pun tidak awam di sana. Apakah kalian sudah siap dengan hal tersebut? Apakah yakin tidak akan terjerumus? Ya berdoa saja semoga jangan sampai yang demikian terjadi pada diri kalian. Kalian ini belajar di sana untuk mengharumkan nama bangsa bukan malah sebaliknya. Harus benar-benar diniatkan bahwa tujuan kalian di sana hanya sebatas menuntut ilmu, tidak lebih. Ambil yang positif-positifnya saja dari budaya mereka.

 

Hidup Sendiri

Kelima, hidup sendiri. Siapa bilang hidup sendiri itu enak. Mungkin satu waktu kita pernah berbica kepada orang tua kita, “Aku itu udah besar, aku pengen bebas, aku pengen bisa sendiri.” Jika benar-benar diperhadapkan dengan situasi seperti itu apakah kalian benar-benar siap? Jauh dari, orang tua, tidak ada kenalan ataupun sanak saudara di sana, apa-apa mesti dilakukan sendiri. Yakin? Percayalah kenyataan itu lebih sulit dari apa yang kita bayangkan.

 

Ingat Kalian Orang Asing

Keenam, ingat kalian itu orang asing. Tidak sembarang orang bisa mereka terima di sana. Apalagi kita ini yaitu negara dengan mayoritas muslim. Tanpa menyinggung agama apapun ya, tapi pasti gerak-gerik kalian benar-benar sangat diawasi di sana. Apa enak hidup seperti itu? Pikir-pikir dahulu lah.

 

Reverse Culture Shock

Ketujuh, reverse-culture shock. Setelah beberapa tahun di sana tentunya kalian sudah terbiasa dengan budaya di sana. Namun, seketika pulang kembali ke tanah air budaya dari sana pasti akan terbawa dalam diri kalian. Kalian harus kembali menyesuaikan diri dengan budaya negeri sendiri. Agak sedikit aneh memang, tapi begitulah kenyataannya. Melelahkan bukan?

 

Ijazah

Terakhir, penyetaraan ijazah. Nah ini nih paling penting. Kalian itu kan kuliah di luar negeri, tentunya kurikulumnya berbeda dengan di Indonesia. Untuk itu, harus dilakukan penyetaraan. Tidak langsung gelar yang kalian dapat dari sana bisa dipergunakan di Indonesia, butuh proses untuk menyesuaikannya. Selama belum dilakukan penyetaraan, gelar asing yang kalian dapat masih dikatakan belum berlaku. Ingat, proses penyetaraan ijazah itu panjang dan merepotkan lho. Dilain kasus, ada gelar dari sana yang tidak sesuai dengan kurikulum pendidikan di Indonesia. Alhasil, sia-sialah pengorbanannya. Kuliah lama-lama, jauh-jauh tapi tidak diakui. Bagaimana rasanya? Mungkin bisa saja dipakai di negara asalnya, akan tetapi apakah semudah itu bisa mendapatkan pekerjaan di negeri orang? Pikir sendiri.

 

Jadi bagaimana, tetap mau lanjut cari kuliah ke luar negeri atau malah takut. Ingin lanjut di Indonesia saja? Bebas, itu terserah kalian, tergantung bagaimana kalian menentukan sikap. Intinya harus punya tekat yang benar-benar kuat dan benar-benar bisa mempertanggungjawabkannya. Sekian.

 

Penulis: Andro Satrio SG