JANGAN REMEHKAN KERJA KERAS

Agung Suharyana baru saja menyelesaikan program S1 nya di Institut Pertanian Bogor, seorang sarjana ekonomi yang sudah aktif di dunia kepenulisan sejak beberapa tahun lalu. Agung telah berkali-kali memenangkan lomba menulis dari mulai tingkat universitas sampai internasional, salah satunya menjadi juara pertama pada Lomba Esai Nasional yang diadakan oleh Event Hunter Indonesia pada tahun 2016 . Selain aktif menulis, ia juga sering diundang menjadi pemateri dan narasumber di beberapa acara talkshow dan workshop seperti acara Talk show “Good News Today” di Metro TV, Workshop Penulisan Esai di Event Hunter Indonesia, dan workshop lainnya.

Saat ini Agung  tengah sibuk dengan proyek penelitiannya dengan dosen di lembaga riset IPB, ia sudah mulai hiatus dari dunia perlombaan dan lebih ingin mengamalkan ilmu-ilmu yang ia dapatkan dari perjuangannya selama ini kepada adik kelasnya, serta mengamalkan ilmu menulis di peneliti.

Asal muasal Agung suka menulis yaitu ketika beranjak ke tingkat dua di Universitas, karena saat itu ia berhasil meraih juara pertama di PKM GT. Sebenarnya saat pertama kali masuk IPB ia sama sekali tidak punya bakat menulis, hobinya adalah seni dan musik, namun karena adanya paksaan dari Pembina asrama bidik misi untuk menulis akhirnya mau tidak mau Agung menurut perintah sampai dirinya termotivasi untuk memanfaatkan lomba sebagai mata pencaharian tambahan untuk mengais rezeki.

Keuntungan dari lomba menulis atau biasa disebut dengan hadiah yang berupa uang tersebut ia gunakan untuk membiayai kuliahnya, bahkan berkat beasiswa,  hadiah lomba menulis, dan mengisi forum pelatihan menulis Agung tak pernah meminta uang sepeserpun pada orang tuanya untuk membiayai sekolahnya, hanya modal otak dan laptop saja dirinya bisa menghasilkan uang jutaan. Ia tidak memungkiri motivasi dirinya ikut lomba adalah karena hadiah, ia berfikir dengan memenangkan lomba bisa menambah pemasukan.

Namun jangan salah dibalik prestasinya yang cemerlang terdapat pengalaman yang begitu pahit yang dialami oleh Agung terutama dalam proses penulisan esai. Saat dirinya pertama kali terjun di dunia kepenulisan di tahun pertamanya, ia sering bolak-balik mengunjungi Pembina yang bisa dibilang sangar itu, ia melakukan revisi berkali-kali, setiap ia menghadap kepada sang Pembina, ia hanya mendapat cacian yang betul-betul merendahkan dirinya. Semua tulisan yang telah dibuatnya langsung dicoret dengan sadis, Agung sendiri tidak tahu mana yang benar dan salah dalam tulisannya tersebut. Kemudian, ia rapikan dengan sendirinya, mau tidak mau ia harus menulis ulang dari awal, belum lagi ia mengikuti lomba menulis itu karena dipaksa oleh sang Pembina. Tidak terbayangkan pahitnya tekanan yang ia dapatkan.

Hambatan lain yang ia rasakan dalam menulis yaitu sulitnya menghasilkan karya tulisan yang bagus, enak dibaca, dan update, yang tidak bisa dikerjakan dalam waktu singkat, itulah alasannya ia melakukan beberapa kali revisi. Meskipun mental yang ada dalam dirinya sudah siap untuk ikut lomba, namun karyanya belum matang, lebih baik ia mundur.

Agung juga sempat mengalami hambatan ketika ikut lomba esai di Event Hunter Indonesia. Yang pertama terkait manajemen waktu. Karena Agung sibuk dengan kuliah dan organisasi himpunan, otomatis waktu yang dimilikinya berbenturan, terjadi dilemma saat harus memillih prioritas utama, ditambah ia baru mengetahui lomba tersebut H-7. Meski dengan waktu yang sangat singkat itu akhirnya ia bisa lolos menjadi juara pertama.

Kedua, karena keterbatasan waktu, ia pun terpaksa meminjam uang pada temannya untuk biaya pendaftaran karena khawatir telat mendaftar. Ketiga, mengenai pemberkasan. Ia harus benar-benar teliti apa saja yang harus dilampirkan karena jika satu berkas saja ketinggalan akan mengancam nasibnya.

Di sisi lain, saat Agung menginjak semester 7, ia mulai merasa berada di titik jenuh, ia merasa semua prestasi yang didapat belum cukup untuk membahagiakan orang tuanya, ia merasa belum bisa membantu orang tuanya dengan layak, sebab ia hanya berfikir dirinya terlalu egois, terlalu focus dengan akademik dan prestasi yang menghambat dirinya untuk melakukan hal yang mungkin harus ia capai di usianya yang terbilang masih sangat muda itu. Di samping itu, karena kepribadiannya yang terlalu introvert mengakibatkan dirinya sulit untuk mengekspresikan diri. Ditambah terlalu sempitnya lingkungan yang ia bangun membuat dirinya terkesan terlalu egois.

Namun, perlahan-lahan Agung mulai bangkit dan menemukan kekurangan yang selama ini ia rasakan. Akhirnya ia mau memperbaiki diri dan mengatasi masalah yang menggentayangi nya selama ini. Ia mulai banyak bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, mulai belajar memahami perilaku rekan-rekan nya, mulai berani tampil di depan kelas.

Ketika dirinya dinobatkan menjadi juara pertama Lomba Esai Nasional di Event Hunter Indonesia, Agung mengaku banyak menerima dukungan di social media, followers instagramnya pun bertambah, tapi selalu saja ada orang-orang usil dengan tangan jahilnya yang mengirim pesan pada Agung bahkan pesan yang tidak sewajarnya ditanyakan, hal tersebut sempat membuatnya kesal. Namun, dengan baik hatinya Agung tetap membalas pesan-pesan tersebut dengan lapang dada dan penuh kesabaran. Sungguh mulia hatinya.

Mengenai target terbesar yang ingin ia capai dalam hidupnya yaitu bisa menjadi orang yang bermanfaat dan bisa membiayai hidup keluarganya, karena bagaimanapun keluarga merupakan sosok yang paling berharga di dunia.