Cerita pendek (cerpen) merupakan jenis tulisan yang menceritakan atau mengisahkan kembali sebuah peristiwa nyata maupun cerita yang berlatarkan fiktif belaka. Biasanya cerita dalam cerpen berpusat di satu tokoh saja. Karakter-karakter yang adapun tidak banyak, kurang lebih 3-5 orang. Jumlah kata dalam cerpen pun dibatasi, ketentuannya kurang dari 10.000 kata atau tidak lebih dari 10 halaman.

Tahukah kalian kalau cerpen itu banyak jenisnya? Lalu, cerpen jenis apakah yang pernah kalian buat? Jangan sampai tidak tahu ya, itu karya kalian sendiri lho. Yuk bagi yang belum tahu dan kepo mari simak penjelasan mengenai ragam cerpen berikut, cekidot.

Cerpen Berdasarkan Jumlah Katanya

Cerpen Mini

Cerpen mini biasa juga disebut Cermin (flash). Isi tulisan ini biasanya langsung mengarah ke tujuan, tidak bertele-tele, tidak menggunakan penjelasan yang mendalam. Cerpen ini jumlah katanya berkisar antara 750-1.000 kata.

Cerpen Ideal 

Sesuai dengan namanya, cerpen ini mempunyai jalan cerita yang pas, tidak terlalu pendek tapi juga tidak terlalu panjang. Bahasa dan isinya juga sangat pas dibaca oleh pembaca, sehinga lebih mudah dipahami. Selain itu, cerpen jenis ini biasanya tidak gampang terlupakan oleh pembacanya. Kata yang digunakan antara 3.000-4.000 kata.

Cerpen Panjang

Beberapa sumber menyebutkan bahwa jenis cerpen ini umumnya tidak lebih dari 10.000 kata. Namun, tidak demikian di Eropa, cerpen dengan kata lebih dari 10.000 sangat tenar di sana. Di Eropa jenis cerpen ini biasa disebut novella atau novellet. Jadi, untuk kalian yang ingin membuat cerpen lebih dari 10.000 kata sah-sah saja kok.

 

Baca Juga:

Suka Menulis? Yuk Coba Menulis Cerpen

Mengesankan! Ini Dia Asal Muasal Cerpen Hingga Mendewa di Indonesia

Jangan Salah, Membaca Cerpen Ternyata Bermanfaat Lho. Ini Dia Manfaatnya!

Lengkap! 15+ Pengertian Cerpen Menurut Ahli

 

Cerpen Berdasarkan Teknik Mengarangnya

Cerpen Sempurna (well made short-story)

Cerpen ini ditulis berdasarkan satu tema dengan alur yang jelas dan akhir cerita yang mudah dicerna pembaca. Cerpen ini merupakan cerpen konvensional dan biasanya ditulis sesuai realita yang ada.

Cerpen Tak Utuh (slice of life short-story)

Cerpen ini mempunyai alur yang bercabang dan biasanya mengacu lebih dari satu tema. Itu memang maksud si penulisnya supaya pembaca tidak dengan mudah mengetahui apa inti dari cerita tersebut. Biasanya ceritanya dibuat mengambang. Cerpen ini merupakan cerpen kontemporer hasil dari gagasan orisinil penulisnya. Sehingga bisa disebut juga sebagai cerpen gagasan atau cerpen berat. Pembaca akan dibuat membaca berkali-kali supaya benar-benar paham tentang isi cerpen ini.

 

Cerpen Berdasarkan Laju Aliran Ceritanya

Realisme

Jenis ini merupakan aliran dalam kesusastraan yang melukiskan suatu keadaan secara sesungguhnya. H. B. Jassin mendefinisikan aliran ini sebagai aliran yang mengambarkan karya seni seperti keadaan yang sebenarnya terlihat oleh mata. Pengarang menempatkan dirinya sebagai pengamat yang objektif sehingga dalam menuliskan karyanya dibuat teliti, tanpa prasangka, tanpa bercampur dengan tafsiran subjektif, maupun memaksakan pandangan atau kehendaknya kepada pelaku atau tokoh maupun pembaca ceritanya. Aliran ini bertolak belakang dengan aliran romantisme yang dianggap cengeng dan berlebihan oleh penganut aliran realis. Karya realisme banyak mengambil cerita atau gambaran dari masyarakat bawah, seperti kaum tani; buruh; gelandangan; pelacur; dan premanisme.

Impresionalisme

Cerpen jenis ini dibuat untuk memberikan kesan. Berbeda dari aliran realisme, menurut J. S. Badudu, kaum penganut aliran impresionalisme tidak akan melukiskan hal–hal yang dilihatnya secara mendetail, Hanya kesan pertama yang melekat dari penglihatan sang pengarang itulah yang akan diceritakan kembali oleh sang pengarang kepada pembacanya.

Naturalisme

Serupa namun tak sama dengan realisme. Aliran naturalisme cenderung menggambarkan hal apapun yang nyata dirasakan, tidak seperti aliran realisme yang kebanyakan berkutat tentang kehidupan sehari–hari. Naturalisme lebih cenderung menggambarkan hal-hal buruk, jorok, bahkan berbau pornografi, namun aliran naturalisme juga melancarkan kritik sosial secara lebih tajam. Penganut aliran naturalisme akan mengungkapkan aspek-aspek alam semesta yang bersifat fatalis dan mekanis, serta mementingkan gerak dan aktivitas manusia yang mewujudkan kebendaan maupun kehidupan moral yang rendah.

 

Baca Juga:

Simak Tips Berikut Ini. Inilah Teknik Membuat Cerpen Yang Benar

Kiat Menulis Cerita Ala-Ala (Terbukti Ampuh, Dijamin!)

Jangan Sampai Kelupaan. Unsur-Unsur Pembentuk Ini harus Ada Dalam Sebuah Cerpen

 

Neo-Naturalisme

Jenis ini merupakan gabungan dari realisme dan naturalisme. Di mana aliran ini menggambarkan hal–hal buruk maupun kenyataan yang baik. Aliran ini muncul karena adanya ketidakpuasan terhadap aliran realisme yang dianggap tidak mampu menyatakan ekspresi jiwa pengarang serta ketidakpuasan terhadap aliran naturalisme yang dianggap kurang mengekspresikan hal secara ekstrim.

Determinisme

Determinisme berasal dari kata ‘to determine’ yang berarti menentukan. Aliran ini merupakan cabang dari aliran naturalisme. Aliran ini berpusat pada takdir, di mana menurut kaum determinisme, takdir merupakan suatu hal yang ditentukan oleh unsur biologis dan lingkungan. J. S. Badudu menjelaskan, jika aliran ini akan memandang nasib sebagai bukan sesuatu yang ditentukan oleh Tuhan, melainkan nasib ditentukan oleh keadaan masyarakat sekitarnya. Aliran ini berpendapat jika ke-melarat-an yang dialami seseorang, sifat jahat yang dimiliki seseorang, maupun sakit yang diderita seseorang bukanlah karena takdir Tuhan, melainkan karena pengaruh lingkungan.

Ekspresionalisme

Ekspresionalisme dijelaskan oleh H. B. Jassin merupakan suatu aliran di mana penganutnya mampu mengenali manusia hingga pikiran dan perasaan yang paling dalam, kesedihan dan kesengsaraan, ketinggian rasa susila, dan kerendahan hawa nafsu. Pada aliran ini, si pengarang seolah–olah masuk ke dalam tokoh–tokohnya dan aktif di dalam jiwa tokoh tersebut Aliran jenis ini menjadikan pengarang sebagai pemain yang subjektif yang turut menyatakan apa yang menjadi dirinya pada setiap cerita yang ia tuliskan.

Romantisme

Jenis ini yang paling digandrungi para pembuat cerpen. Aliran romantisme fokus pada perasaan. Romantisme kadang dianggap sebagai penyakit kaum muda yang belum banyak mengecap pahit–manis kehidupan, di mana mereka lebih sering mengukur segalanya dengan intuisi dan perasaan tanpa melibatkan otak. Aliran romantisme sangat mementingkan penggunaan kata–kata indah serta pengandaian atau awang–awang di alam mimpi. Karya romantisme ada jenis yang cengeng, yang melukiskan kegalauan jiwa remaja yang berlagu tentang bahagia romansa seakan dunia hanya milik berdua, berlarian di taman bunga yang indah dipayungi awan dan pelangi yang menghiasi. Namun, ada pula jenis romantisme dewasa yang dibalut dengan pengalaman dan pengetahuan yang mampu melahirkan karya sastra mengharukan.

Idealisme

Aliran ini didefinisikan oleh Sabarudin Ahmad sebagai aliran romantisme yang mendasarkan cita–cita ceritanya bertumpu pada cita–cita atau ide si penulis semata. Pengikut aliran ini akan memandang jauh ke depan ke masa mendatang dengan segala kemungkina yang diharapkan akan terjadi. Karya aliran ini umumnya indah dan menawan.

Surealisme

Aliran ini muncul di Perancis dalam rentang Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua. Tokoh aliran ini berusaha menggambarkan suatu dunia mimpi tanpa mengarahkan maksudnya, sehingga pembaca didorong untuk memberikan penafsiran mereka sendiri–sendiri. Penggambaran cerita dalam aliran surealisme umumnya melompat–lompat sehingga sulit untuk dipahami. Pembaca dituntut mampu menyatukan sendiri tata bahasa, pemikiran, serta logika yang ditampilkan secara acak oleh pengarang di dalam karya surealismenya.

(Materi dari https://dosenbahasa.com/macam-macam-cerpen)

Penulis: Andro Satrio SG