Belum lama kita dengar kejadian buruk yang menimpa anak-anak Indonesia di luar negeri. Tentu masih terbayang dalam ingatan mahasiswi Indonesia yang mendapatkan perlakuan keji orang yang tidak bertangung jawab. Ia di serang setelah sesampainya dikediamannya di Belanda, setelah itu diperkosa.

Terulang dan terulang lagi. Kabar duka kali ini datang dari salah satu mahasiswa Indonesia di Jerman. Shinta Putri Diana, mahasiswi semester akhir Universitas Bayruth, Jerman ini ditemukan tak bernyawa lagi. Mahasiswi pascasarjana konsentrasi kedokteran forensik ini meregang nyawa usai berenang di danau Trebgaster, danau yang berada di sekitar komplek kampus.

kronologi saat itu begini. Pada Rabu (9/8/2018) Shinta bersama seorang temannya diketahui sedang berada di danau dekat kampusnya. Rupanya Ia dan temannya itu sedang berenang. Sampai pad sore hari, Shinta tidak diketahui keberadaannya lagi. Sontak teman-teman yang sembari diliputi kepanikan itu mencari shinta, sampai-sampai menggunakan pengeras suara, alhasil nihil. Hingga pada akhirnya teman-temannya itu melapor ke pengawas danau untuk dibantu mencari. Hingga tengah malam pencarian terus dilakukan. Sebanyak 100 personel rescue dikerahkan berserta alat-alat canggihnya, tetap saja tidak membuahkan hasil dan pencarian dihentikan sementara.

Dilanjutkan pada pagi harinya, tim kembali menyisir seluruh area danau yang mempunyai ukuran panjang 680 meter dan lebar 220 meter serta kedalaman 4 meter ini. Setelah lama mencari, kerja keras tim membuahkan hasil, Shinta ditemukan sudah tak bernyawa berjarak 30 meter dari pinggir danau. Jasad itu dipastikan Shinta dibuktikan oleh tutur temannya sesama  mahasiswa yang melihat bahwa itu benar shinta. Dari hasil penelitian lebih lanjut, Shinta dipastikan tewas dengan murni kecelakaan,

Berita ini bak petir di siang bolong, terkhusus untuk orang tua Shinta. Umi Salamah, Ibunda Shinta bercerita sepenggal kenangan mengenai anaknya itu. “Ia akan wisuda pada desember nanti, dan setelah itu pulang untuk melangsungkan pernikahan, sehabis itu kembali lagi ke Jerman untuk meneruskan S-3 nya”.

Gadis kelahiran 1993 itu menekuni bidang kedokteran khususnya forensik karena dilandasi satu hal. Ia ingin mengembangkan ilmu forensik di Indonesia. Wanita yang pernah mengenyam pendidikan sarjana di Leipzig ini dikenal aktif berhimpun dengan organisasi PPI di sana. Sampai-sampai ia menjadi guide orang Indonesia yang berkunjung ke sana.

Sesuai ketentuan di sana, seorang yang meninggal selain di rumah sakit dan dirumah harus otopsi terlebih dahulu sebelum dikuburkan. Oleh karena itu, menurut rencana Jasad Shinta baru bisa diterbangkan setelah otopsi dan akan dimakamkan di tanah air.

Masalah lain timbul, hal ini terait biaya pemulangan jenasah. Setelah pada sebelumnya diketahui pemerintah yang akan bertanggungjawab perihal pengurusan dokumen termasuk biaya pemulangan, nyatanya tak sesuai. Diketahui belakangan, biaya pemulangan jenasah Shinta tidak ditanggung dan dibebankan kepada keluarga.

Sontak pihak keluarga kaget. Ibunda Shinta mengira kalau biaya akan ditanggung negara karena sudah ada obrolan sebelumnya. Adapun biaya bisa ditanggung negara jika pihak keluarga melampirkan surat keterangan tidak mampu. Hal itu langsung ditolak oleh Umi salamah, ia berujar bahwa ia mampu. Ia tidak ingin “menipu” negara dengan alasan tidak mampu. “Saya sebetulnya bisa, hanya saja kabar ini mendadak, padahal sebelumnya saya baru saja kirim uang ke Shinta senilai 8 ribu Euro. Itu sekitar Rp 150 juta,” ungkapnya.

Secara inisiatif akhirnya Helmy, kerabat Shinta membuka donasi online di salah satu website. Ia menargetkan angka di Rp 60 juta dan dalam beberapa jam donasi tersebut sudah terpenuhi. Hingga dana terkumpul, belum ada informasi pemerintah lebih lanjut terkait biaya yang dibutuhkan untuk membawa jasad Shinta pulang ke Indonesia.

***

Dari sini bisa diambil pelajaran. Bagaimana hidup sendiri di luar negeri bukan perkara mudah. Mungkin enak, bisa bebas tidak ada yang melarang dan mengawasi. Hidup di luar negeri apalagi yang tujuan utamanya adalah menuntut ilmu harus lebih berhati-hati. Tanamkan dalam diri meskipun dirasa bisa menjaga diri ada baiknya tidak perlu melakukan sesuatu hal yang macam-macam, apalagi sampai di luar batas wajar. Tujuan ke sana untuk menuntut ilmu ya harus benar-benar tuntutlah ilmunya. Dengan perilaku hidup baik dan bijak bisa sedikit menghidarkan dari hal-hal buruk. Ingat baik-baik, ada yang lebih penting daripada melakukan hal-hal kurang bermanfaat. Ada orang tua, keluarga, kerabat, teman yang setiap hari cemas memikirkan kalian di luar sana sembari memanjatkan doa.

 

Penulis: Andro Satrio SG