Aisyah merupakan seorang mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi di UIN Sunan Ampel Surabaya. Kesibukannya sehari-hari yaitu kuliah dan membantu usaha aqiqah siap saji milik ibunya. Pertama kali ia mulai suka menulis yaitu ketika sekolah menengah, ia masuk pesantren, seorang perantau apalagi perempuan pasti akan sering mengalami homesick, rindu suasana rumah dan keluarga. Sama halnya dengan yang dialami Aisyah saat itu, tinggal di pesantren membuatnya rindu sanak saudara juga kedua orang tua, tidak ada seorang pun yang bisa ia ajak bicara serta berbagi kisah canda tawa, suka maupun duka.

Akhirnya ia mulai menggoreskan tinta hitam di buku diary nya, mencurahkan seluruh isi hati dan pikirannya, mengutarakan berbagai masalah yang tidak bisa ia ceritakan pada orang lain, sehingga lama-kelamaan ia mulai sering menulis tentang kesehariannya secara rutin. Dari situlah dirinya mulai hobi menulis hingga saat ini. Meski hobi menulis, Aisyah mengaku sampai saat ini belum menerbitkan buku tapi ia aktif menulis di wattpad yang mana karya-karyanya tersebut cenderung bergenre romantis.

Pada bulan September tahun 2018, Event Hunter Indonesia mengadakan Lomba Cerpen Nasional dengan tema “Indonesiaku’ yang diikuti oleh ribuan pendaftar yang akhirnya menghasilkan 6 karya teratas yang dipimpin oleh Aisyah Nihayah Ni’mah sebagai juara pertama dengan cerpen yang berjudul “Sittichai Lebih Cinta Indonesia daripada Aku.”

Sebelumnya, Aisyah lebih sering mengikuti lomba pidato Bahasa Inggris namun, karena ia juga suka menulis dan kebetulan cerita yang dibuat Aisyah menarik, ia akhirnya mendapat dukungan dari teman-temannya untuk mengikuti Lomba Menulis Cerpen yang salah satunya diadakan oleh Event Hunter Indonesia.

Ia juga mengaku ini merupakan kedua kalinya ia mengikuti lomba menulis cerpen dan pertama kalinya pula meraih juara pertama setelah kegagalan yang dialaminya di kompetisi menulis sebelumnya saat kelas dua SMA. Dukungan yang tiada henti datang dari teman-teman baik Aisyah yang mendorong dirinya untuk ikut lomba cerpen, kemampuannya sudah amat dipercaya dalam bidang kepenulisan. Meski begitu, ia sama sekali tidak memiliki target untuk masuk nominasi 6 besar atau motivasi yang kuat untuk mengikuti lomba cerpen sedikitpun, ia hanya ingin menyalurkan bakatnya dan memberikan yang terbaik untuk orang-orang di sekitarnya. Karena sesungguhnya keajaiban akan datang pada waktunya.

Menjadi seorang pemenang tentu tidaklah mudah, setiap orang mendapat banyak rintangan dan benturan yang berbeda-beda, di setiap langkah dan waktu yang mereka lalui akan menjadi suatu pelajaran hidup yang bermakna termasuk untuk Aisyah. Hambatan yang dialami Aisyah selama proses mengikuti lomba cerpen yang pertama yaitu tentang ketentuan lomba, karena Aisyah baru pertama kali mengikuti lomba di Event Hunter Indonesia, ia cukup keteteran dengan peraturan lomba yang dilakukan secara online mulai dari pendaftaran sampai pengiriman naskah. Aisyah merasa panik karena ia telat konfirmasi pembayaran yang harusnya dilakukan 1 x 24 jam, sebab jika telat konfirmasi maka peserta akan dianggap gugur secara otomatis. Jadi, jangan lupa perhatikan persyaratan lomba terlebih dahulu ya guys.

Kedua, dalam pembuatan naskah, hambatan yang dialami yaitu mengenai latar tempat. Karena latar yang diambil dari kisah nyata yaitu Nusakambangan, maka Aisyah harus melakukan riset ekstra tentang tempat tersebut karena ia memang belum tahu seluk beluk Nusakambangan. Kenapa harus riset? Supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Selain itu hambatan dalam penokohan, sosok narapidana yang ia ambil juga dari kisah nyata berikut nama aslinya juga. Kenapa kedua hal tersebut dianggap sulit? Karena harus sesuai dengan fakta agar tidak terjadi kontroversi antara pembaca dan penulis.

Untuk ide cerita sendiri, Aisyah tidak merasa menemukan kesulitan yang krusial karena ide cerita sudah ada sebelum lomba cerpen diadakan, bahkan penyelesaian naskah pun hanya satu hari tidak lebih, artinya ia sudah memiliki naskah namun belum sempat dipublikasikan. Bisa dibilang persiapan sudah sangat matang.

Aisyah sendiri tidak percaya dirinya bisa menjadi juara pertama lomba cerpen, ia mengaku kebingungan ketika banyak yang memberi ucapan selamat kepadanya di sosial media. Namun, disamping itu, Aisyah justru mengalami resiko terberat seumur hidupnya yaitu menghadapi para netizen yang selalu penasaran tentang dirinya, mulai dari naskahnya sampai soal trip ke luar negeri pun menjadi pertanyaan netizen. Setiap hari Aisyah selalu mendapat pesan dari orang tidak dikenal semenjak ia dinobatkan menjadi juara pertama lomba cerpen nasional, ia mendapat banyak cibiran yang tidak senonoh bahkan dari teman-temannya sendiri yang menganggap Aisyah tidak pantas mendapatkan penghargaan yang berupa trip ke luar negeri hanya karena lomba cerpen, mereka menganggap telalu mudah bagi Aisyah mendapat anugerah seperti itu.

Selain itu, tekanan hidup yang menghantam Aisyah dulu ketika zaman sekolah membuat dirinya merasa tertekan karena orang-orang disekitarnya selalu menuntut ia untuk menjadi yang terbaik alias perfect, hal tersebut mengakibatkan dirinya sering konflik dengan guru di sekolah, bahkan dijauhi oleh teman-temannya. Untungnya, Aisyah tipikal orang yang selalu berinstrospeksi diri, ia tidak ingin memperpanjang masalah tersebut dan memutuskan untuk memaafkan semua tindakan yang dilakukan orang-orang sekitar kepadanya. Apapun yang terjadi ia berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di masa depan. Termasuk dalam mengambil tindakan untuk mengatasi permasalahan netizen Aisyah lebih memilih tidak ambil pusing, ia sama sekali tidak menggubris celotehan netizen yang mengganggu dirinya. Aisyah tetap berpikir optimis, yang terpenting ia terus melakukan resolusi untuk kedepannya dan melakukan yang terbaik.

Pepatah bilang pengalaman adalah guru yang terbaik, kita bisa ambil banyak pelajaran dari apa yang telah kita alami, karena semua yang terjadi pasti ada hikmahnya toh. Berdasarkan pengalaman Aisyah 3 hal berikut yang paling penting untuk diperhatikan ketika mengikuti perlombaan:

Memperhatikan tema. Menurut Aisyah, akan lebih mudah membuat cerita jika temanya sudah ditentukan oleh pihak panitia, kita hanya tinggal menyesuaikan tema tersebut dengan cerita yang sedang atau akan kita buat. Selain itu, jika temanya bebas, ambillah tema yang menarik, semakin beda semakin menarik, ambillah tema yang jarang digunakan seperti kriminalitas atau tentangp sikologi, yang penting mengandung amanat dan pesan moral untuk pembaca.

Perhatikan ketentuan lomba. Biasanya banyak peserta yang terlalu mengabaikan persyaratan lomba. Padahal, hal yang pertama dan utama yaitu memenuhi persyaratan terlebih dahulu, jangan sampai kita gagal hanya karena tidak mengikuti persyaratan lomba dengan benar, meskipun karya yang kita buat sudah bagus namun persyaratan belum terpenuhi jangan berhara puntuk bisa masuk 6 besar ya, hehe.

Tips dari Aisyah untuk event hunter ketika kalian sudah mendaftar sebuah perlombaan sebaiknya langsung dikerjakan, karena untuk lomba menulis sendiri membutuhkan mood yang bagus dan waktu yang cukup maka jangan mencoba berleha-leha kalaui ngin menjadi yang terbaik.

Dahulukan prioritas. Biasanya pada awal menulis yang kita tulis pertama kali adalah judul, namun karena saking dilemanya¾banyak ide yang muncul, kita malah kesusahan menentukan judul yang tepat untuk cerita yang akan dibuat, tentunya hal tersebut malah akan membuang-buang waktu, sebaiknya jika kesulitan menentukan judul yang tepat kita bisa memulainya dengan menulis ceritanya terlebih dahulu baru menentukan judul yang menarik. Carilah hal yang menarik dari cerita kita untuk dijadikan judul, misalnya menggunakan namatokoh, nama tempat atau nama-nama unik lainnya yang terdapat di konten cerita kita untuk membuat judul kita berbeda dari judul orang lain. Apapun yang terjadi, kita harus bisa memilih prioritas utama ketika waktu benar-benar terbatas.

Sasaran terpenting dalam sebuah kompetisi bukanlah hadiah, melainkan melatih diri untuk bersaing secara kreatif, menggali wawasan, dan melakukan evaluasi untuk memperbaiki kekurangan yang kita miliki. Jangan pernah takut dan malu untuk menyalurkan bakat kita.

“Jika kita tidak pernah mencoba bagaimana kita mengetahui letak kesalahan kita? Cobat erus, evaluasi terus, hadiah itu masalah terakhir.”(Ais